Kampungku,

Jenuh dengan pekerjaan? Penat dengan tugas kuliah?

Pulang kampung yuuuk….?!!!

Tempat lahir, tumbuh, dan belajar bersama anak kampung yang lain. Hmm..tak terlupakan.

Suasana khas kampung halaman (Magetan).
Belum selesai rekaman ayat-ayat suci diperdengarkan, suara dlebag-dlebug ayah-ayah pembuat adonan bata tanah terdengar di seantero kampung halaman, begitu juga clepak-clepuk dengan terampil ibu-ibu meratakan adonan bata ke dalam cetakan kayu, atau yang terbaru sekarang dari kaca.

Panggilan untuk mendirikan dua raka’at berkumandang di banyak musholla dan masjid yang jumlahnya berbanding terbalik dengan jama’ahnya. Termasuk penulisnya, ;-(

Tak terlupakan memang, saat mereka mulai bekerja saat puncak keindahan malam datang. Bulan dan bintang yang berhamburan di langit-langit kampungku seakan berebut tampil sebelum bintang yang bernama Matahari memaksa mereka meredup dan hilang.
Ayam pun turut meramaikan kontes paduan suara yang diadakan setiap subuh hingga pagi menjelang.

Barisan bo**** pun terbentuk rapi, tak terlalu rapat, dua saf tapi saling membelakangi. Rapi, tersusun sesuai hierarkhinya, tua di hulu, diikuti orang dewasa, remaja, hingga anak-anak di deretan paling akhir. Seperti telah terjadwal, pemandangan yang sama setiap pagi agak petang di sepanjang kali belakang rumah yang lebarnya 4 m dengan kedalamannya 30 cm saat surut dan ga lebih dari 1 m saat pasang.
Selalu ramai, tapi kini agak berkurang karena warga mulai sadar diri dan lingkungan. Alhamdulillah…

Saat minggu tiba ; somprengan, colotan, boin, gatheng, kecikan, dan banyak permainan tradisional lainnya ramai-ramai dimainkan adek-adek. Sayangnya, itu dulu. Kini televisi yang jauh tak bermoral lebih disukai anak-anak. Hmm…?? What should we do for our generations?

Bertegur sapa membuat kami mengenal satu sama lain hampir semua warga kampung. Jadi, kami tak bingung saat orang dari luar kampung yang mengantar ‘ulem-ulem’ meminta petunjuk ke rumah warga yang dituju. Damainya…
Sayangnya lagi, itu mulai berkurang. Budaya ‘cuek’ pun mulai menyebar ke warga. Take care guys!

Yang masih bertahan,
duduk-duduk di depan rumah saat si Surya menuju tempat rehatnya masih jadi tradisi warga kami. Sepanjang jalan kampung tampak segar dengan ibu-ibu yang berdandan rapi setelah seharian membanting tulang bersama kekasihnya, ayah-ayah. Tak tahu apa yang mereka bicarakan, yang aku tahu seperti pasar sore.

Anak-anak yang pulang dari TPA, disambut hangat oleh ibu-ibu mereka. Dan sebagian langsung turut andil meramaikan pasar sore hingga pertanda maghrib nampak di langit barat.

Mitos,
menurut mbah-mbah dan sebagian orang-orang ‘lama’, jika udah ‘surup’ maka ga boleh keluar.
Usut punya usut, ternyata apa yang mereka sebut-sebut itu ternyata sesuai dengan hadits yang insya Allah intinya menganjurkan agar kita berada di rumah karena saat petang setan-setan berada dalam aktifitas yang padat…

Malam,
akan sangat ramai di bulan ramadhan.

Kampungku, salam rindu untukmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s