Hati kita, segelas atau setelaga?

Hati kita setelega kah?
Spontan Wawan belokkan kuda besi Odiq ke kanan menuju rumah Ulis, meski jarum menunjuk jam malam mereka nekat ke rumah Ulis karena hujan tak toleran.

‘Alhamdulillah’, hati Odiq dan Wawan tersenyum melihat sepiring gorengan dan segelas kopasus (kopi susu) hangat. Begitu pengertian Ibunya Ulis…

Dengan cepat Odiq dan Wawan menyambar, dan lenyaplah gorengan itu tanpa bekas (termasuk piringnya…)

Pembicaraan pun dimulai;
Berbicara masalah hati,
Hmm..siapa tahu ternyata 3 sosok manusia baru ini memiliki kisah (bukan masalah) yang begitu kompleks dan masing-masing harus mau dan mampu menerima, mempelajari, dan menemukan jawabannya. Jika diamati memang serasa seperti mata ujian yang harus diselesaikan meski terkadang atau bahkan sering jawaban itu tak benar. Tapi penilaian bukan karena benar atau tidaknya jawaban, melainkan seberapa besar usaha yang dilakukan untuk memperoleh jawaban tersebut.

Terkadang satu masalah bisa membawa seseorang merasa menjadi manusia paling menderita…

Dan Odiq mulai berbagi ;
‘Alkisah pada satu masa dan pada satu tempat, ada seorang pria yang menderita…
ia berniat untuk meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kebahagiaan atau tepatnya kemuliaan yang selama ini sama sekali belum pernah ia rasakan.

Ia realisasikan niatnya, dengan beralas kaki ia mulai menyusuri jalan. Sampai pada satu tempat ia bertemu dengan seseorang yang merasa kasihan dan berniat menjadikannya budak dengan dalih akan memberikan kemuliaan yang ia cari.
Ia mulai bekerja di rumah majikan tersebut. Berganti hari, minggu, bulan dan tahun, majikan tersebut semakin merasa iba dengan pengabdian yang sangat dari pria itu. Ia pun tak tega, dan kemudian membebaskannya dan memberi tahu dimana kemuliaan bisa ia dapatkan.

Pria itu malanjutkan perjalanannya mencari kemuliaan. Sampai pada satu tempat, ia mencari – cari orang yang disebut-sebut mantan majikannya bisa memberikan kemuliaan.
Sampailah ia di depan rumah orang itu. Ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam rumah yang reot itu.

‘Apakah benar engkau dapat memberikan kemuliaan padaku?’, pria itu bertanya.
‘Benar.’, jawab tuan rumah.
‘Bagaimana engkau bisa memberiku kemuliaan sementara kondisi engkau seperti ini, dengan rumah yang tidak layak disebut sebagai rumah orang yang mampu memberikan kemuliaan!’, pria itu menyampaikan keraguannya.
‘Hmmm…’, tuan rumah bergumam.

Dengan langkah santai, tuan rumah mengambilkan pria itu segelas air dan segenggam garam. Pria tersebut menerimanya.
‘Jika kau inginkan kebahagiaan, maka tuangkan garam dan campurkan ke dalam air itu.’ Sambil mengerutkan dahinya, pria itu menuruti permintaan tuan rumah.
‘Minumlah!’, pinta tuan rumah.

Karena penasaran akan kemuliaan yang besar, pria itu menuruti permintaan tuan rumah dan segera meminumnya.

Coba bayangkan, betapa asin bahkan pahitnya air tersebut.

Pria itu langsung memuntahkan air garam itu. Dan memprotes, ‘kenapa kau pinta aku meminum air tersebut sementara kau tahu air itu bukan asin lagi tapi pahit!’

Tanpa menjawab, tuan rumah memberikan isyarat kepada si pria untuk mengajaknya pergi ke belakang rumahnya.

Tak disangka di belakang rumah reot tersebut ada sebuah telaga yang begitu luas dengan pemandangan yang indah.

tuan rumah memberikan segenggam garam lagi pada si pria dan memintanya mengaduknya ke dalam telaga.
‘Minumlah!’ pinta tuan rumah.

Pria itu kemudian meminumnya, dan ia tersenyum haru mengerti maksud si tuan rumah itu.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Kawan, mana yang kau pilih?
Air segelas atau air setelaga?

Segelas air jika dicampur dengan garam (uyah) akan uasin jadinya, bahkan pahit bukan???
Setelaga air jika dicampur dengan garam segenggam maka akan tetap segar airnya dan akan lebih segar meski ditambah bergenggam-genggam garam.

Begitulah seharusnya kita, mari kita jadikan hati kita seluas tenaga yang akan tetap segar atau bahkan akan lebih segar saat bertubi-tubi masalah datang.
Jangan jadikan hati kita seluas gelas, yang akan terasa pahit saat masalah menghampiri.

Selalulah bersyukur atas semua yang Allah berikan kepada kita, apapun itu. Selalu ada kebahagiaan di setiap syukur yang kita panjatkan.

Lapangkan hati kita dalam menghadapi setiap ujian yang Allah sampaikan pada kita, dan akan selalu ada jalan setiap ada niat, usaha dan doa dalam menghadapinya.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Begitulah Odiq membagikan ilmunya…

selalu ada kebahagiaan dalam setiap kesederhanaan.๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

Dengan maksud yang terselubung Odiq menggaris bawahi.

    Tidak ada cinta sejati melainkan cinta setelah pernikahan!!!!

?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s