MENULIS ITU BERTUTUR KATA



Jember, 16 Januari 2011

Hari ini adalah kali pertama aku menghadiri bedah karya dan diskusi kepenulisan di sekertariat FLP Jember. Sudah beberapa kesempatan aku lewatkan sejak aku terdaftar sebagai calon anggota baru di forum ini.

Selepas ‘asar, aku bergegas melarikan Karismaku menuju Toba II. Meski dengan suara mesin yang merintih, harus kupaksakan karena aku tak mau terlambat mengisi daftar hadir perdanaku. Hufft…dan benar saja, aku sampai di sekretariat pukul 15.37 waktu E63 yang ku percepat 4 menit. Menurut perhitungan aku terlambat 3 menit.

Setelah menenangkan si Karis di depan pintu, aku menuju pintu sekretariat yang di bagian bawah dan agak ke kiri sedikit berjajar sepatu dan sandal berwarna – warni dengan ukuran rata-rata separuh kakiku.
Tak ada jawaban atau terlalu kecil frekuensi yang membuat gendang telingaku tak merespon jawaban atas salamku. Clingak – clinguk di depan pintu, dan tak berapa lama Mas Sunardi datang. Dengan senyum ramahnya yang khas, ia menjabat tanganku dan segera mempersilahkanku masuk.

Satu persatu teman-teman baruku memenuhi ruangan forum. Dari wajah dan gaya bicara mereka nampak kalau mereka orang-orang cerdas yang pandai membahasakan idenya ke dalam tulisan. Dan sepertinya aku satu-satunya pemula yang hadir dalam bedah karya itu.

Karya yang dibedah hari ini adalah (Ternyata) Kiamat itu Tahun 2011 karya Ademas – seorang mahasiswa keperawatan semester akhir di satu-satunya universitas negeri di kota ini. Dan perlu diketahui bahwa ternyata beberapa dari kami adalah mahasiswa-mahasiswa yang suka mendua. Tak bisa dipungkiri dan harus diakui bahwa jalan hidup manusia itu penuh kejutan hingga kenyataan pun sering tak sesuai dengan perencanaan. Masade adalah contoh hidupnya.

Karya Masade mengangkat isu yang sedang berkembang di Amerika, yaitu isu datangnya Hari Kiamat pada bulan Mei tahun ini. Isu tersebut diangkat oleh salah satu sekte Kristen berdasarkan salah satu ayat dalam alkitab yang sayangnya ayat yang lain menjelaskan bantahannya. Membingungkan.

Diskusi dimulai. Mas x menanyakan korelasi antara judul dengan isi serta tujuan yang ingin disampaikan oleh penulis. Mas Aulia – pemilik blog duniakuntansi.com- memberi koreksi terhadap beberapa kalimat yang menurut editor ini kurang sesuai dengan EYD. Dari sini aku mendapatkan pelajaran yang pertama, yaitu penggunaan kata ‘Namun’ sebagai konjungsi dan transisi.
Diskusi terus berlanjut. Sampai pada bahasan opini dan essai, akupun mengajukan pertanyaan tentang perbedaan dari pengertian dua jenis karya tersebut. Pak Ketum pun menerangkan dengan gambling. Dan itulah pelajaran keduanya.

Suasana diskusi begitu hidup dengan sisipan canda di dalamnya. Diskusi itu diakhiri dengan substansi yang disampaikan oleh pak Ketum, dan dalam salah satu kalimatnya berbunyi,”….menulis itu bertutur kata.” Dan itulah pelajaran ketiga dan utama yang aku dapatkan sebagai pemula.

Tak terasa jarum telah menunjuk waktu dimana acara harus diakhiri. Meski hujan, aku memaksakan diri untuk pamit karena aku baru sadar kalau seharian itu aku belum mandi. He he he🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s