tentang atas dan bawah

Pagi itu, aku dan Bahar melanjutkan rutinitas tahunan pengambilan gambar thermal di sambungan penghantar listrik.

Gumitir, tempat kunjungan kami hari ini. Berangkat pagi, menerobos barisan embun yang masih berjubel saat matahari mulai mengawal fajar. Wuzzzzz… udara pagi yang berair menerobos celah-celah pakaian kami. Sesuatu yang jarang kami rasakan akhir-akhir ini.๐Ÿ™‚

Sampailah kami di rumah pak Nari di pedalaman Garahan yang kami tempuh selama 30 menit dari pusat kota Terbina (baca : Jember) dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Kedatangan kami bersambut senyum dan kopi Garahan hasil tanam – rawat -panen – olah – dan seduh sendiri. ‘Mak srupputss…’ semriwing… caffein berkontaminasi cepat dengan darah dan membawa sensasi semangat pagi yang khas.

Bekal dan perlengkapan siap, kami memulai perjalanan ke Gumitir untuk yang pertama kalinya. Pak Nari memimpin perjalanan atau lebih tepatnya pendakian yang menurut Beliau akan memakan waktu sehari.
Masih datar. Barisan pinus tegak menjadi pemandangan pertama kami. Lumayan…setidaknya masih ada tiga perempat sarapan dan kopi di perut kami.
Mulai menanjak. Kopi dan kawan-kawan tersenyum sindir mendengar nafas kami yang mulai mengkis – mengkis. Perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Di sepanjang perjalanan kami disuguhi berbagai tumbuhan besar nan renta dan flora yang (mungkin) tak kami dapati jika kami tak ke sini. Lelah yang nikmat.

Sesekali kami bertemu orang-orang pribumi yang berpakaian seadanya dengan ramah menyapa kami. Ramah, langka ditemui di tempat yang sering disebut kota.
Perjalanan terus berlanjut. Semakin menanjak. Masih ada setengah. Yup, masih ada setengah sisa tenaga kami. Masih dengan kopi dan berbagai tumbuhan langka dan raksasa yang ditumpangi tumbuhan epifit. Semakin menantang dan semakin membuat penasaran. Keindahan seperti apa yang ditawarkan di sana. ”Wooeeeeee……..e…e…e….”, teriakku melepas lelah di puncak pertama. Jeprat – jepret suara kamera hp mengabadikan pemandangan luar biasa yang sejak pagi kami perjuangkan. ”Subhanallah…” betapa indah maha karya ini. Ku pasangkan safety belt di section kedua dan menyandarkan tubuh sejenak sambil melihat pemandangan ke arah barat. Berderet bukit yang mengelilingi Jember seakan benteng kokoh yang nampak biru kehijauan dari kejauhan. Barisan pinus di awal pendakian kami pun nampak seperti prajurit anti banjir yang siap memberikan kesejukan di musim panas dan siap memberikan perlindungan di musim hujan. Hmm..di beberapa titik nampak longsoran-longsoran kecil yang semoga enggakakan melebar dan meluas sehingga mengubah rasa puas ini menjadi rasa was-was (nanti).

Kawan, betapa luar biasanya pemandangan alam Gumitir. Dan kita pun tahu alam ini luar biasa luas. Seluas ni’mat yang sering terlupakan untuk disyukuri.

Sedikit ingin berbagi pengalaman dari Gumitir, tentang atas dan bawah. Saat kita berada di atas, maka bersyukur dan tengoklah ke bawah. Karena kita akan mengerti sejatinya keindahan yang sebenarnya ada di sana. Dan jika kita berada di bawah, maka bersyukur dan tersenyumlah karena sejatinya kita telah menjadi bagian dari keindahan itu sendiri.
Sesuatu dikatakan tinggi karena ada sesuatu yang disebut bawah. Semua yang ada di alam ini berasal dari bawah dan tak akan bisa berada di tempat yang tinggi tanpa perjuangan dan penuntun. Persiapan adalah awal dari keberhasilan, dan kalian tahu itu kawan. Perjalanan dari perjuangan itu akan terasa nikmat dan indah jika kita mau melihat di sekeliling kita dan sesekali menyapa keluarga, tetangga, kawan, dan siapa saja yang sudah selayaknya bagi kita berbuat baik terhadap mereka. Jika perjalanan mulai menanjak dan menemui rintangan, maka di situlah saatnya kita belajar kuat, berpikir, dan tidak putus asa, tentunya bolehlah sejenak kita beristirahat.
Dan sudah seharusnya kita akui dan sadari semua yang telah, yang sedang, dan yang akan kita lewati adalah karenaNya. Dan jika perjuangan itu berakhir indah dan bahagia, tak sepantasnya kita berbesar kepala karena sekali lagi itu adalah karena, dari, dan hanya untukNya.

Perjalanan kami pun belum berakhir…

To be continued…
hijau

5 thoughts on “tentang atas dan bawah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s