akas ac tarif ekonomi

‘Sayang aku bukanlah bang thoyib,
Yang tak pernah pulang dan tak pasti kapan dia datang…’

Semakin serak, entah berapa kali reff lagu itu diulang-ulang. Nampak seumuran adikku yang baru naik kelas 5. Polos, sepolos caranya menggenjreng alat yang biasa disebut keroncong.

Masuk dengan langkah santai. Amatir tapi cuek. Entah bagaimana menyebutnya ketika kepolosan bercampur asa yang tak seharusnya dimiliki anak seusianya. Bercelana 3/4, kaos oblong, tas samping dengan model yang lagi ngetrend, dan topi dwi fungsi; penutup kepala dan penadah receh.

Selesai membawakan lagu bang toyib, ia pun melanjutkan SOP selanjutnya ; melepas topi dan membaliknya, kemudian menyodorkanny ke masing-masing penumpang yang sedang menikmati empuknya kursi AKAS AC tarif ekonomi jurusan Jember – Surabaya.

‘lik…!’, begitu suaranya sembari menyodorkan topinya. Tak semua yang ada di bis kebagian topi bergambar Naruto itu. Ia melewatkan penumpang yang memejamkan mata (baca: tidur atau yang lain).

Sangat biasa nampaknya. Tapi dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.

Tak berbeda jauh dengan pemandangan yang pernah aku jumpai di Surabaya waktu itu.

Kawan, sudahkah kita bersyukur hari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s