Mengapa bukan aku saja??

Tentang Ibu,
secara biologis ibu adalah seorang wanita yang telah melahirkan seorang manusia baru melalui rahimnya. Tentunya setelah adanya perjuangan untuk bertemu dengan ovum yang ada dalam rahim seorang ibu.

Secara umum, Ibu bisa berarti seorang wanita yang mengasuh seorang anak yang lahir dari rahimnya (ibu kandung) ataupun yang lahir bukan dari rahimnya (ibu asuh, ibu angkat, dsb). Ibu juga menjadi sebutan untuk wanita yang dewasa atau setidaknya seumuran ibu kita.

Ibu, begitulah kiranya sebutan untuk seorang wanita yang mulia yang merawat kita mulai dalam rahimnya hingga kita sebesar ini. Pada umumnya, seorang anak akan selalu membutuhkan kasih sayang ibunya hingga ia mampu untuk berdikari / mandiri / bekerja. Lalu bagaimana jika Beliau harus meninggalkan kita sebelum kita mandiri, bahkan saat kita dan atau adik-adik kita masih sangat membutuhkan perhatian Beliau???

Ini kisah dari kawan, sebut saja Si ridho.
Meski baru beberapa hari kenal, setidaknya ada pelajaran yang sangat berharga yang bisa di ambil.

Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan yang tak mudah akhirnya Ridho yang telah dua tahun menganggur mendapatkan pekerjaan yang meski bukan cita-citanya tapi insyaAllah sangat menggantinya. Tampak aneh awalnya, ia selalu tersenyum setengah lebar hingga tampak gigi-giginya pun gusi-gusinya setiap bertemu dengan kami (saya dan teman-teman kerja saya, semoga dengan orang lain pun juga). Sumeh istilahnya orang Jawa. Tak disangka ia adalah sepupu dari teman kuliahku sendiri. Dengan perawakan tinggi tegap, kulit agak gelap, dan senyum yang khas ia tampak sebagai ABG yang santun.

Sesekali aku mencoba belajar darinya. SKSD, karena belum lama kenal. Seperti pada umumnya awal pembicaraan, aku menanyakan keberadaannya sebelum ada di tempat kerjanya yang sekarang. Jawabnya sama seperti yang sepupunya ceritakan, ia pernah dua kali mengikuti ujian untuk menjadi seorang yang membela negara dan ia pun pernah duduk di kursi ujian akhir. Sayang, ia harus menerima kenyataan pahit karena tak punya ‘jawaban’ atas ‘pertanyaan’ yang dapat meloloskannya. Rahasia Umum!

Sejak SMA ia telah berusaha mandiri, ia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ngamen pun pernah ia lakukan. Ibunya meninggal, dan ia berusaha mandiri untuk tidak memberatkan ayah dan beberapa adiknya. Salut.

Dan satu hari saat kami berada dalam satu ruang satu arah, mencoba memberanikan diri bertanya lebih jauh. Dan tak malu-malu ia bercerita. Bahwa ibunya mulai sakit sejak mengandung adiknya yang terakhir. Sebuah benjolan pada leher yang kian akut. Beliau bertahan hingga Ridho kecil lahir. Tak lama setelah kelahiran adiknya, Ridho harus merelakan ibunya kembali kehadirat Allah Subhanu wa ta’alaa.

Kini ia telah mampu menafkahi dirinya sendiri dan keluarganya. Saat pertama ia menerima pengumuman bahwa namanya tercantum sebagai calaon pegawai di PT XX, ia segera mengelpon Bapaknya yang saat itu sedang mengajar, ceritanya. Ia tak kuasa menahan tangis bahagia yang bercampur kesedihan. “Beliau tak sempat melihat kesuksesannya.”

Kawan, apa dia bilang? Setiap ia melihat seorang anak yang berperilaku tak baik kepada ibunya ia mengeluh, “Mengapa anak itu bukan aku saja? Mengapa bukan aku saja yang menjadi anaknya?”, katanya. Dan kalian tahu maksudnya bukan? Betapa memang kehilangan akan membuat kita lebih menghargai.

Seperti yang kita tahu, ibu adalah 3 dan ayah adalah 1. Begitulah yang disampaikan tauladan kita Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam tentang keutamaan ibu dibanding ayah. Dan kita tahu justru Rasulullah telah ditinggal ibunya sejak kecil. Betapa Beliau Sholallahu alaihi wassalam bisa menghormati dan mengutamakan seorang ibu, lalu kita???

Abu Hurairah radhiallahu ‘anh berkata:

Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya:

“Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layan dengan sebaik-baiknya?”

Baginda menjawab: “Ibu kamu.”

Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”

Baginda menjawab: “Ibu kamu.”

Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”

Baginda menjawab: “Ibu kamu.”

Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”

Baginda menjawab: “Ayah kamu.”[1]

Seorang sahabat bernama Jahimah radhiallahu ‘anh datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta pandangan baginda untuk dia ikut serta dalam ekspedisi Jihad.

Rasulullah bertanya: “Adakah kamu masih mempunyai ibu?”

Jahimah menjawab: “Ya.”

Lalu Rasulullah bersabda:

“Tinggallah bersamanya kerana sesungguhnya syurga terletak di bawah tapak kakinya.”[2]

Baca artikel lengkapnya di sini.

Lalu kawan, bagaimana dengan sikap kita? Sudahkah kita bisa dengan benar memuliakan Beliau?? atau lebih banyak mengeluh saat Beliau meminta pertolongan kita??? hmmm…
Terkadang saat keinginan kita tak sejalan dengan apa yang beliau harap, seolah-olah kita merasa bahwa beliau tak pernah memenuhi keinginan kita. Pernahkah kita tahu, apa yang sedang Beliau fikirkan tentang masa depan kita? Doa yang ibu kita panjatkan untuk melihat kita bahagia?? Pernahkah kita berfikir sejenak saja, betapa Beliau telah begitu banyak berjuang untuk kita mulai dari rahim hingga kita sebesar ini sekarang. Lalu apa yang sudah kita berikan untuk ibu?

Betapa teganya kita….lalu pantas saja Ridho berkeluh, “Mengapa tidak aku saja?”.

2 thoughts on “Mengapa bukan aku saja??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s