‘Tuhan, Ijinkan aku pacaran…’

Bermula dari sms kawan lama yang sekarang sedang menempuh pendidikan di Institusi Keguruan di kota Brem, ada seminar dengan judul yang menarik, “Tuhan, ijinkan aku pacaran…”
Sesuai yang tertulis di sms, kami berangkat jam 07.30 WIB menuju Graha Cendikia yang tidak lain dan tidak bukan adalah gedung milik kampus temenku. Tak sendiri, sebelumnya aku menghubungi dua teman karib yang sama-sama sedang dalam masa pencarian. ‘Cocok banget ni temanya.'(dalam hati bergumam). Baru mau ngomong, eh, lha kok keduanya udah tau duluan. Tak perlu panjang pikir atau pikir panjang๐Ÿ™‚ kami berangkat.

Sampai di tempat, nampak banyak akhwat yang memenuhi stand pendaftaran. Mencoba sedikit mencari alternatif, barangkali dapat gratis, kami menghubungi teman yang memberi info seminar tersebut. Tak lama ia pun datang, dan langsung mengantar kami ke stand pendaftaran.๐Ÿ˜ฆ berharap memeluk gunung, tapi apa daya tangan tak sampai atau jauh panggang dari api. Maksudnya?!!?

Kami mendapat 2 selebaran yang bertemakan iklan naik haji dengan dana talangan, selembar info Lembaga Kepemudaan, dan selembar stiker berjudulkan sama dengan judul seminar. ” Kami juga mendapat 2 lembar kresek, dan kami baru tahu maksudnya setelah memasuki ruang seminar yang menyediakan tempat duduk di atas tikar yang luas.

Undangan jam 07.30, sampai di tempat jam 08.00, duduk santai sambil menanti narasumber sampai jam 09.00, akhirnya seminar pu dimulai.

“Tuhan, ijinkan aku pacaran…” dengan narasumber Ustadz Fauzil Adhim, dr. Nur Hidayat, Sp.BS, dan drg. Indah. Ustadz Fauzil Adhim adalah lelaki yang lahir di Mojokerto yang dibesarkan di Glenmore – Banyuwangi, dan kuliah di Jogja. Beliau sempat mengajar di salah satu universitas di Jogjakarta sebagai dosen Psikologi tapi hanya bertahan empat semester, katanya “yang penting bukan pekerjaan yang tetap, tapi tetap bekerja”. Kemudian ia mencari nafkah sebagai guru di sebuah SD dan sekarang ia melayani konsultasi psikologi dan menjadi traineer di berbagai seminar. Beliau juga seorang penulis, salah satu karyanya ialah “Kupinang Engkau dengan Hamdalah”. Beliau bertumbuh tambun, kulit sawo matang, umur kira-kira di atas 40 tahun, jenggot cukup lebat, beristri satu dengan baru tujuh anak.

Beliau, Ustadz Fauzil Adhim, telah berjenggot sejak SMP. Beliau tak seperti kawan-kawannya yang lain, yang mengidolakan seorang wanita yang menjadi primadona di sekolahnya. Menurut pengalaman beliau, primadona SD akan menjadi salah satu primadona waktu di SMP. Primadona waktu di SMP maka menjadi salah sedikit dari primadona SMA, dan seterusnya. Begitu maksud beliau saat menjawab pertanyaan seorang siswa Aliyah negeri Madiun yang menanyakan tips menjaga cinta yang telah tumbuh untuk seorang akhwat agar dapat disampaikan pada saatnya nanti. Dunia ini luas, jangan melihat di satu tempat, tapi melihatlah keluar.

Saat muda, Beliau bukanlah lelaki yang tak tertarik dengan lawan jenis. Tapi ia telah mendapat ‘wejangan’ dari ibunya. “Boleh suka sama perempuan, tapi nikah dulu”.

Sejak SMA beliau sudah menginginkan menikah. Namun hal tersebut tidak direstui oleh sekolah yang melarang siswanya menikah selama belajar. Ia pun mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang melarang siswanya menikah. Karena belum terpenuhi menikah di masa SMA, Beliau akhirnya menikah di masa kuliah. Ia menikahi wanita Bugis yang memiliki visi yang sama, yaitu menikah untuk menegakkan syariat islam. Bukan karena suka sama suka, tanpa melalui proses berpacaran. Hingga sekarang mereka bahagia dengan ke tujuh anaknya. “Alhamdulillah, baru tujuh…” kata Beliau saat ditanya moderator.

Narasumber berikutnya, ialah dr. Nur Hidayat dan drg. Indah yang ternyata adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 25 tahun tepat 25 Desember 2011 lalu. Mereka adalah keluarga yang (insyaAllah) bahagia dengan 6 anak yang keempat anak di antaranya kini tengah menempuh pendidikan di fakultas kedokteran di empat universitas yang berbeda.

Kedua dokter ini memiliki cerita yang inspiratif mengenai pertemuan beliau berdua. Sama-sama kuliah di FK universitas ternama di Surabaya, beliau berdua aktif di UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam). Belum pernah bertemu sebelumnya, tapi memiliki visi yang sama : Tidak mau berpacaran sebelum menikah. Dokter Nur tahu drg. Indah dari teman sekelas drg. Indah yang aktif juga di UKKI. Ia menitipkan sebuah buku tentang Tauhid kepada temannya tersebut untuk disampaikan kepada drg. Indah. drg. Indah pun bingung dengan hal tersebut. Suatu hari saat drg. Indah yang sedang mengikuti kegiatan UKKI ditemui seorang wanita yang bermaksud mengenalkan kakaknya kepada drg. Indah. Tak lain tak bukan ialah dr. Nur Hidayat. Tapi hal tersebut tidak diketahui oleh dr. Nur pun adiknya yang bermaksud mengenalkan drg. Indah juga tak tahu kalau kakaknya juga sedang ‘membidik’ drg. Indah.

Kisah berlanjut, ternyata maksud dari dr. Nur menitipkan buku tentang Tauhid tersebut ialah untuk mengetahui kesamaan visi antar beliau dengan drg. Indah. Gayung bersambut. Tak lama kemudian, ia pun menyampaikan maksud untuk menikahi drg. Indah. Sebagai seorang anak, drg. Indah memberi tahu orang tuanya akan maksud dr. Nur. Kedua orangtua beliau memberi kepercayaan sepenuhnya kepada drg. Indah. Dan setelah mendapat sinyal tersebut, dr. Nur mengadakan silaturrahim ke keluarga drg. Indah di daerah Kalibaru – Banyuwangi. Sampai di tempat, beliau ditantang yang dalam bahasa Indonesia,”Bagaimana kalu sekarang saja?!” Sebagai anak, dr. Nur tak mau mendahului orang tua meski ia tahu bahwa lelaki tak perlu wali untuk menikah.

Ketiga narasumber menikah di masa kuliah, masa dimana mereka termasuk kita masih sangat membutuhkan uluran tangan orang tua untuk mencukupi kebutuhan hidup dan kuliah kita, yang tentunya tak sedikit.

Ustadz Fauzil, Beliau berusaha mandiri sejak beliau belum menikah. Beliau dengan ilmu yang telah beliau pelajari, menjadi pengisi dalam berbagai kegiatan keislaman. Beliau yang telah mempersiapkan diri untuk menikah telah belajar ilmu tentang pendidikan anak, ia pun mengajar ilmu tersebut kepada mahasiswa lainnya dan menerima konsultasi umum yang akhirnya mengantar beliau menemukan cinta sejatinya. Dari situ beliau menghidupi diri dan keluarga beliau.

Sedangkan dr. Nur dan drg. Indah berpacaran setelah sah sebagai suami istri saat drg. Indah semester 4 dan dr. nur semester 6. Dari jadi Salesman hingga menjadi guru Bioloagi di salah satu sekolah Taman Siswa di Surabaya. Dengan usaha yang tak mudah itu beliau, dr. Nur menghidupi keluarganya walau mereka juga tak menolak kiriman dari orang tua.

Mereka begitu bahagia dengan kehidupan rumah tangga mereka. Kehidupan rumah tangga yang bukan bermula dari perkenalan dan pendekatan atau lebih akarab disebut dengan pacaran, melainkan rumah tangga yang dibentuk berdasarkan niat suci menegakkan agama Allah, untuk membentuk masyarakat Islam. Meski berkeluarga membutuhkan biaya, tetapi dengan keyakinan, usaha, dan doa mereka mampu melewati semua yang menjadi penghalang dan mereka nampak bahagia. Dan kita tahu mana bahagia yang sebenarnya dengan bahagia yang sementara. Tentunya mereka yang menjadi narasumber telah memiliki ilmu tentang bagaimana memilih calon pasangan, dan bagaimana menjadi bagian dari keluarga dengan suami sebagai imam dan istri sebagai makmum.

Banyak hal yang disampaikan narasumber dalam seminar yang diselenggarakan kemarin (28/01/2012). Sangat inspiratif untuk mendorong kita sebagai generasi muda yang selayaknya tidak menjadi bagian dalam rusaknya moral bangsa kita karena masuknya budaya global yang semakin lama semakin memperoleh ‘pembenaran’.

Banyak keutamaan yang akan kita peroleh dengan menikah, bukan karena saya telah mengalaminya tapi banyak dalil yang menjelaskan baik dari Al Qur’an maupun Hadits dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut adalah link-link terkait dengan keutamaan menikah dan mensegerakan menikah :
http://murattalkeren.blogspot.com/2011/05/keutamaan-menikah.html
http://iwansugiyarto.blogspot.com/2011/02/keutamaan-menikah.html
http://ciciimut.multiply.com/journal/item/117/Keutamaan_Menikah?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
dan masih banyak lagi lainnya.

dan akhirnya saya mau mengutip status ikhwan di facebook,”Aku yang pernah melakukan kesalahan dalam perjalanan hidup ini. Semoga tidak ada kata terlambat untuk berbenah diri. “Ya Allah, Ampunilah dosa kami, Lindungi diri dan hati kami, berikan barokah dalam setiap langkah kami, Perkenankanlah doa kami. Amiin..”

Demikian tulisan saya yang masih belajar menulis ini, semoga bermanfaat bagi saya dan bagi pembaca semua. Semoga kita segera dipertemukan dengan cinta sejati kita. Bukan lewat pacaran (lagi) tapi lewat jalur yang memang telah ditentukan oleh syari’at. Amiin.

Demikian, Kesalahan adalah milik saya pribadi dan kesempurnaan hanyalah milik Allah Subhanahu wa ta’alaa.
๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s