FAT – Factory Acceptance Test

FAT, secara harfiah terdiri dari tiga kata ;
Factory : pabrikan
Acceptance : penerimaan
Test : pengujian

Atau jika digabung adalah pengujian penerimaan pabrikan. Hmm…maksudnya?? atau lebih mudahnya begini, secara umum FAT ialah pengujian-pengujian yang dilakukan oleh pabrikan terhadap peralatan baru, disaksikan oleh perwakilan dari pembeli / perwakilan pembeli / customer, sesuai kontrak yang telah disepakati sebelumnya.

Seperti yang teman kami ikuti belum lama ini, sebut saja Wan. Ia mengikuti FAT di sebuah pabrikan yang memproduksi peralatan untuk keperluan distribusi tenaga listrik dari transmisi ke pelanggan, Transformator / Transformer di PT Unelec Indonesia. Sesuai kontrak yang tertulis dalam surat kontrak tentunya, disana disebutkan bahwa peralatan tersebut memiliki spesifikasi demikian dan demikian. Maka dalam FAT tersebut, Wan harus mengikuti secara langsung pengujian yang dilakukan oleh tim pabrikan. Bagian Pengujian akan memberikan secara singkat prinsip dasar pengujian, standar hasil pengujian dan toleransi yang diijinkan (sesuai acuan standar yang digunakan, contoh : IEC 60076). Jika hasil tidak memenuhi standar, maka perwakilan customer boleh mengajukan komplain dan pihak pabrikan akan melakukan investigasi, evaluasi, dan reparasi hingga peralatan tersebut memenuhi standar untuk dioperasikan.

Untuk perusahaan-perusahaan secara umum, apalagi sekelas PT Unelec Indonesia yang menerima order assembling trafo tidak hanya dari Indonesia, memiliki tim yang kompeten di bidangnya. Setiap proses produksi dilakukan dengan teliti dan diawasi oleh QC (Quality Control) yang akan menuangkan kekurangan dari peralatan dalam lebar “Problem Description” yang berarti peralatan tersebut perlu didiagnosa dan dicarikan obatnya. Jadi, sebagai customer kita tak perlu khawatir akan kualitas barang belanjaan kita, tapi juga tak boleh bermudah-mudahan dalam menjalankan anggungjawab sebagai pembubuh tanda tangan dalam lembar Berita Acara FAT.

Jika FAT telah dilaksanakan maka peralatan akan dikirim ke Site, yaitu tempat dimana peralatan tersebut akan dipasang dan dioperasikan. Sesampainya peralatan tersbut di tempat yang dituju, maka akan dilakukan site test. Hasil dari FAT akan dijadikan referensi dai hasil Site Test, dengan demikian maka jika terjadi keanehan / perbedaan antara hasil FAT dengan Site Test maka perlu ditanyakan, “Apa yang terjadi selama perjalanan?” Pihak pabrikan akan melakukan evaluasi atas hasil tersebut dan melakukan tindak lanjut hingga peralatan dapat dioperasikan.

Jika hasil Site Test menunjukkan hasil yang identik dengan hasil FAT (sesuai standar acuan dan kontrak), maka Peralatan tersebut telah lepas dari tanggung jawab pabrikan kecuali ada kesepakatan garansi. Peralatan dapat di-commissioning dan dioperasikan sesuai fungsinya.

Demikian, info singkat mengenai FAT yang pernah kami ikuti. Semoga bermanfaat.

6 thoughts on “FAT – Factory Acceptance Test

  1. Pak, mohon masukan nya:
    1. Siapa yang membiayai FAT,? apakah pabrikan, distributor atau pembeli?
    2. FAT yang dilakukan apakah dapat dianggap berita acara uji fungsi?
    Demikian Pak, mohon dibantu.

    1. 1. Pengalaman saya, yang membiayai fat adalah pabrikan. Kedatangan kita sebagai saksi bahwa peralatan sudah teruji di pabrikan.

      2. Bisa dikatakan uji fungsi juga. Tapi selain fungsi dari alat (kontrol, metering) dan bagian2 di dalamnya juga ada pengujia lain seperti uji isolasi, dll yang lebih lengkap. Setelah pengujian dilaksanakan, penguji dan saksi (konsumen) menandatangani BA FAT. Namun setelah alat dikirim ke lokasi, wajib bagi pabrikan/kontraktor melakukan site test. Nanti sebelum peralatan dioperasikan masih dilakukan pengujian kembali atau yang biasa disebut commissioning.

    1. @dimas,
      sejauh yang saya tahu, setiap kontrak yang dibuat pasti disana termasuk standart yang harus dipenuhi. Yang pernah saya ikuti (itupun yang pertama hehe) memakai standart IEC. Bisa saja tempat anda menggunakan standart2 lain,

      maaf mungkin baru itu yang bisa saya jawab karena memang saya pun baru sekali mengikuti..๐Ÿ™‚

  2. Wah.. Pak terima kasih atas informasinya… saya jadi tahu apa itu FAT. Jadi semacam Onsite Approval dimana poduct yg dibuat harus sesuai dgn spec, sebelum digunakan di lapangan. Thank’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s