Lapindo akhir Mei

Sekedar berbagi cerita tentang Lapindo yang sempat kami singgahi akhir Mei.

Lumpur yang selama ini hanya terlewati kini terlihat dengan mata sendiri.

Luas. Tampak di kejauhan kepulan asap putih yang mengudara lalu memudar. Dulu terbaui sengatnya hingga ke jalan, kini tak terlalu. Hanya semriwing sesekali lalu tersaring oleh bulu hidung masuk ke paru, otak, turun ke mulut, “hmm…ambune?!”. :))

Nampak luas, karena memang luas. Mengering di sebagian permukaaan, nampaknya. Tertancap beberapa bendera dengan tiang tak lebih dari dua meter (kira-kira) di area yang mungkin cukup kering untuk diinjak. Sungai kecil tampak menghulu dari asal asap mengalir membuat beberapa belahan diantara rekahan lumpur kering. Riuh lirih air mengantar tumpukan baru lumpur. Sedikit menambah ketinggian daerah yang konon dulu adalah dataran. “Keren! Hallooo..Bapak yang di sana?! Sudahkah berkunjung kemari?”

Mencoba menyelidik, lembut berpasir. “Bagus buat nyitak boto!”, kata kawan. Sementara mengabadikan momen yang konon “berharga” ; berpose dengan latar ujian kesabaran.๐Ÿ™‚

Lalu ibu-ibu seumuran ibu menghampiri sambil menyodorkan DVD dengan cover “Lumpur Lapindo” seharga 20.000,-. Jika sedang tak beruang maka cukuplah gelengkan kepala. Jika masih berkeras menawarkan, maka sampaikan “Sampun bu, matur nuwun”. Jika Beliau enggan pergi, maka berpindatempatlah, dan Beliau akan mengerti.Hmm..betapa, yang dulu dihuni kini jadi lahan untuk mencari penghunian.

Beberapa menawarkan sepeda motor, “silakan dinaiki sendiri, Mas!”, katanya. “Sampean bisa bawa sampai deket pusatnya sana!”. Ya, memang ditepi danau lumpur itu terdapat jalan yang cukup untuk sepeda motor dan pick-up, atau mungkin truk juga cukup. Jalan yang terbuat dari padatnya tepian tanggul yang berbentengkan batu yang tersusun sedemikian rupa. Kokoh, nampaknya.

Kereta nampak biasa mengular pada jalurnya. Mengantar saudara yang hendak mencari nafkah atau mengantar nafkah untuk yang wajib ternafkahi. Meski lebih rendah beberapa anak tangga dari tanggul. Meski beberapa meter dari tanggul. Tak apalah, toh banyak kawannya jika sewaktu-waktu tanggul tak mampu membendung lalu lumpur memperluas daerah kekuasaannya.

Kawan, lalu kemana? Orang yang nampak berserakan fotonya di sana. Di jalan-jalan, mengajak pada kemakmuran katanya. Good job, Sir!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s