Cerita tentangmu(dik) Kawan

Kawan,
Kini waktuku tiba. Jika kemarin, lusa, atau esok adalah waktumu, nikmatilah.
Hari ini, sore ini, adalah waktuku kembali pada latar yang telah Ia siapkan untukku. Merangkai judul demi judul dalam buku yang akan ku bacakan untuk kalian.
___________________
Kinilah masa yang dulu – saat kita belajar di kelas yang sama – kita angankan. Dan Allah telah sampaikan. Sesuaikah? Tentu tak semua. Karena Dialah yang Maha Mengetahui kebutuhan kita. Tak perlu risau, meski kadang gelisah datang. Apa yang kita dapat adalah apa yang kita upayakan, tentu dengan hasil akhir dariNya.

Jika kemarin, beberapa hari yang lalu kita bercanda, mencoba memutar pita yang belum cukup lama merekam kebersamaan kita, kinilah saatnya untuk menyusun bait baru, cerita baru, merangkainya dengan latar waktu, tempat, dan tokoh baru. Jangan gunakan pita lagi, karena tak terjual lagi tape-compo. Bolehlah simpan dalam piringan digital dan aneka macamnya, dalam otakmu, dalam hatimu.

Awalnya, merasa paling bahagia di antara kalian yang -menurutku- sedang merajut atau bahkan baru merajut asa. Atau bisa jadi baru memulainya. Sebelum menelisik jauh tentang kalian.

Lalu membiru, kita kalian lebih mampu mengunjungiku. Mengingatku, membawakan cerita tentangmu dan tentangku. Lepaslah sudah tinggiku. Kalian jauh lebih istimewa.

Bersama kopi, tempe, tahu, dan beberapa lombok malam itu, bersila bersama. Mulai bercerita.

Kamu, ya…kamu. Kawan yang mengerjakan TA SMK dulu, diam-diam kau menggeliat. Seperti gayamu, tak perlu berbanyak koar sepertiku, mengutak-atik ibu kota. Dan kaupun turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Berlebih? Ah, tidak! Ini mauku menyematkannya padamu.

Kamu, yang dulu bercengkerama dengan mesin percetakan, sejak awal kau telah membantu bangsa membuka wawasan lewat buku cetakanmu. Meski awalnya mungkin bukan itu niatmu. Sejak sakit itu, katamu, kau berpulang untuk orang tuamu. Masih jelas tergambar, semoga kau pun ingat (nak lali tueggooo…) di kursi ‘bok’ samping lapangan tenis merangkap futsal, depan ruang BK (masih belum ingat kah?), mimpimu menjelang kelulusan ; membuka lapangan kerja untuk setidaknya orang – orang sekitarmu. Dan kau mulai merintisnya, dengan celana perdanamu, hasil jahitanmu. Yakin ku akan doa ; semoga tercapai mimpi itu. Aamiin.

Kamu, yang besar itu. Berapa tahun kau murung dalam tubuhmu yang melimpah? Sejatinya kau cerdas, benar itu adanya. Kini terbukti bukan? Upayamu menghasilkan.
Dulu aku pernah ceritakan padamu, yang putih, yang abu-abu. Tak perlu ku ceritakan hitam, karena kau pasti tahu ia akan antar kita kemana. Rasanya, kini kau menemuinya, pun denganku. Lalu jawablah yang dulu kau pertanyakan!

Lalu kamu. Dulu tubuhmu tak sebesar ini. Kau temui yang dulu kita cari. Kini gaya bicaramu berbeda saat berbicara tentang yang berhubungan denganmu ; strategis, tertata, matang dengan logat ke Suroboyoan. Keren! Salut! Kau tahan inginmu untuknya dan orangtua yang berharap segera kau pinang. Tegas tersirat kau katakan padaku : ‘untuk adikku.’

Kamu, lagi-lagi kamu. Rumahmu adalah yang terjauh pernah ku tempuh dengan sepeda. Waktu itu kala meminjam tenda untuk perkemahan kita; Regu Semut. Tenda terhangat pertama dan terakhir untukku dalam Pramuka. Sangat berkesan, denganmu dan mereka. Mungkin namamu lah yang paling sering tertulis dalam banyak judul kisahku bahkan kemarin pun kau masih mengantarku. Dengan guyonan dan ceritamu.
Kini kau hampir lulus dengan gratisnya kuliahmu. Hebat, kau dapatkan beasiswa dari awal hingga akhir semestermu. Semangatmu, visimu, tak kuragukan. Aku mengenalmu, lama dan banyak, kecuali beberapa yang memang tak perlu kau minta aku untuk tahu. Pun begitu denganku.
Rasanya aku tak rela mendengarmu bercoba ria, berlomba di antara ribuan mereka. Kau terlalu hebat untuk sekedar menjadi seperti itu. Lalu apalah dayaku melarang? Kau lebih tahu yang kau citakan. Biarlah doa kami mengantarmu ; semoga terwujudkan yang kita impikan. Aamiin.
Tapi ingat, kau penggagas cerita. Ya, cerita yang baru kita susun kerangkanya dan telah tersampaikan pada mereka. Kau tahu dan kami percaya kita bisa.

Dan kamu. U are a single fighter. Lama tak jumpa, ingatku sejak kita lulus 2005. Ku dengar kabarmu via kawan-kawan yang kerap hadir dalam acara tahunan kita. Lalu ke Surabaya, bertemu dalam sosial media dengan nama yang kau sisipkan ‘namanya’. Masihkah dengannya? :p. Ah, tak perlu kau sampaikan jawabnya.
Aku lupa dimana pertama kalinya aku membaca tulisanmu. Sejak awal, tulisanmu itu : sendu.๐Ÿ˜€ Kau berbakat, meski tak pernah terduga. Kau pandai merangkai kata, dengan bahasamu kau membawa kami dalam cerita. Juga MIB, yang dulu digadang-gadang menjadi prajurit, ternyata kini berkecimpung di dunia sastra. Kalian hebat! Teruslah berkarya!

Banyak yang ingin tersampaikan, tapi rasanya jemariku mulai kelelahan. Baiklah, mungkin cukup untuk hari ini. Kan ku lanjut esok hari, jika masih ada jatahku ; jatah hidupku.

Sedikit saja,
Selamat jalan kawan, temukan sukses yang kau idamkan.

Sejatinya, harta bisa membuat kita -tampak- mulia tapi ia tak mampu sedikit pun membayar bahagia kecuali dengan mensyukurinya dan berbagi atasnya.

Jika gelisah datang, bacalah yang seharusnya kita baca dan kita cerna.
Berbagilah, meski hanya dengan senyuman.

Ku tunggu ceritamu saat kita berkumpul kembali, tahun depan!

๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

4 thoughts on “Cerita tentangmu(dik) Kawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s