Mie Ayam saja!

Baiklah. Mie. Mie ayam. Mie ayam di desa sebelah ini tak berbeda dengan mie-mie ayam di warung lain. Isinya sama : Mie keriting, sawi, suwiran ayam olahan, dan kuah. Ingatku ada acarnya, tetapi tidak tadi sore agak malam.๐Ÿ˜€

Rasanya enak, sedap, atau dalam bahasa madura dikatakan ‘nyaman ongkuh’. Pun dengan mie ayam di warung yang lain. Lalu apa istimewanya? Mie yang satu ini seperti tak kehilangan cita rasa. Ibarat pepatah jawa,”Witing tresno jalaran soko kulino”. Rasa yang (relatif) sama dengan lidah perasa yang sama dan perulangan yang berulang (ya mesti!) membuat enggan berpindah ke lain hati meski sesekali mencoba warung-warung mie ayam yang bertimbulan. Lebih dari itu, warung yang dulu berseberangan dengan posisi yang sekarang itu bagian dari cerita lalu, kemarin, hari ini, dan bisa jadi esok. InsyaAllah.

 

Ialah tempat dimana seorang yang biasa kami panggil “Pak’e” memberikan penghargaannya atas sesuatu yang membuatnya bahagia menjadi seorang ayah. Dulu. Dulu sekali. Saat langkah-langkah kecil itu memenuhi tanah kampungku dengan jejak-jejak canda dan tawa. Meramaikan heningnya keadaan yang sangat seadanya. Mie ayam. Seperti makanan biasa. Memang. Iyalah makanan biasa yang istimewa. Hingga kini, untukku. Untukmu? Bolehlah, bisa jadi kita sama-sama penggemar makanan spesial ini.

 

Ku teruskan,

Maksudku menawarkan, apa yang dulu tak sempat kau tawar lagi kau tawarkan. Bukan karena tak mau, tapi rautmu mengantarkan jawaban sebelum pertanyaan ku utarakan. Dan aku lebih sering memaksamu memenuhinya dalam diamku. Percayalah, aku lebih menyukai mie ayam. Kau tak terlihat benar-benar menikmatinya. Bukan kau saja, tapi kalian semua. Nikmat, tapi mudah di dapati. Jauh lebih nikmat mie ayam yang dulu sesekali kita kunjungi.

XMie ayam, mie ayam terus, mie ayam lagi.

Ialah pembuka bagi seorang lelaki dan sepasang bidadari berbagi. Menyampaikan beberapa kalimat yang diharap membekas di ingatan dan berjejak di sepanjang perjalanan. Nikmat dirasa. Tak perlu berlama-lama, karena terlalu lama pun tak baik. Mie ayam akan ‘mblothong’ dan tak nikmat lagi jika tak hangat. Bergegaslah pulang, lalu berangkat menghampiri ladang yang dulu diimpikan.

Esok, aku akan kembali pulang dan mengajakmu mencicipi nikmatnya hidangan pembuka cerita sederhana nan penuh makna.๐Ÿ™‚

2 thoughts on “Mie Ayam saja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s