Awas, Copet dan Sandiwaranya!

Sedikit berbagi pengalaman dalam berkendaraan umum yang penuh dengan lika-liku perjalanan dan pelakunya.

Perjalanan Surabaya – Jember atau sebaliknya pada malam hari cukup beresiko mengalami peristiwa tak mengenakkan : kecopetan atau tertipu. Seperti biasa, pencopet memanfaatkan kelengahan kita saat kita terlelap. Pencopet di jalur ini tak biasa bekerja sendiri. Bergerombol, tapi masuknya satu-satu. Kurang lebih begitu.
Saat kita tertidur, pengutil secara diam-diam mendekati kita. Bisa saja ia duduk jauh dari tempat kita, tapi saat kesadaran kita terbang (tidur) mereka dengan lihainya beraksi. Berpindah secara bertahap dari kursi ke kursi lalu berakhir di samping atau belakang kursi kita.

Tangannya yang terampil akan secara cepat merogoh wadah-wadah penyimpanan kita : saku, tas, dll. Dan kalau yang dicari udah dapat, dengan santainya mereka melenggang meninggalkan kita yang masih melanjutkan mimpi.

Sedikit unik,saat ada orang yang terjaga (nggak tidur) yang bukan anggota dari mereka -ini pengalaman teman saya-, dengan tak sungkan pengutil itu akan bertanya,”Sampean ‘anggota’?”. Apapun jawabannya, mereka akan minta ijin untuk “bekerja”. Nah, dalam kondisi seperti ini dibutuhkan ketegasan dalam menjawab. Jawablah dengan bijak, agar tak ada saudara kita yang terkurangi dan kita tetap dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang.

Simpanlah barang berharga di tempat yang sulit dijangkau tangan-tangan copet.
____________________________

Selanjutnya, Sandiwara

Ketika bus berhenti di terminal, seseorang naik ke dalam bus lalu bertanya, “Orang yang kehilangan tas tadi dimana?”. Lalu orang yang dimaksud itu pun menyahut, “Saya, Mas.”
“Sampean dari mana?” “Sumatra, Mas.” dengan wajah sayu ia menjawab. Lalu seorang penumpang bertanya padanya perihal kejadian yang menimpanya. Ia punย  bercerita bahwa ia telah kehilangan tas yang berisi uang hasil kerja kerasnya selama ini. Ia tak punya apa-apa lagi. Kemudian ia tawarkan sisa barang yang masih ia miliki, (biasanya) jam tangan dengan warna kuning kecoklatan yang dengan efek cahaya yang tak terlalu terang akan tampak seperti emas. Ia tawarkan dengan harga yang lumayan mahal, “Aseli ini, Mas.” katanya dengan wajah memelas.

Penumpang itu pun menolak dengan alasan tak ada uang, dan menyarankan untuk menawarkannya pada penumpang lain.Jika Anda yang menjadi penumpang lain tersebut, Anda lebih baik tak menerimanya. Karena kemungkinan besar itulah sandiwara rutin yang biasa dimainkan oleh tim yang cukup solid. Tak perlu sutradara, cukup tiga lakon saja. Ketika Anda bermaksud membantunya, saat itu juga ia berhasil menukarkan jam tangan yang tak semahal dengan harga yang anda berikan padanya.

Sandiwara itu biasa terjadi, jika Anda sering pulang-pergi dengan kendaaraan umum ; Bis Ekonomi khususnya, maka sudah selayaknya Anda tahu akan sandiwara ini. Bagi Anda yang belum mengalami, semoga kisah ini dapat membantu Anda untuk mengantisipasi jika Anda menjumpai kisah serupa atau sedikit berbeda.

Satu yang pasti, niat membantu telah bernilai satu. Jika terrealisasi maka bernilai ganda. Semoga niat membantu kita (dalam konteks sandiwara) ini tidak disalah artikan oleh mereka yang curang. Semoga Allah selalu melindungi kita. Aamiin.

Sekali lagi, berhati-hati saat berkendaaraan umum sangat diperlukan. Simpanlah barang Anda ditempat yang aman dan sulit dijangkau ‘tangan’. Mungkin kita boleh bertegur sapa, tapi untuk percaya, kita harus lebih banyak bertanya. Atau bisa jadi diam lebih baik bagi kita dari orang yang membuat kita curiga.

Selamat berkendaraan umum,Semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Awas, Copet dan Sandiwaranya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s