-InsyaAllah-

lirih, ia berteriak meronta meminta haknya
tak bersuara, karena kau kurung ia pada lemari kaca

meringis, mengais pada pagi gerimis
setidaknya, bukan mengemis. Tak akan meski teriris.

Mengadu, pada tempat dan waktu yang padu
bercerita tentang petualangan dan rindu
lalu tersipu, memaniskan diri untuk menjemput hati yang biru,

“Bantu aku, Rabbku”

-InsyaAllah-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s