Secuil nikmat, sejumput senang

Kembali menapaki hari,
Seperti biasa, menggelinding bersama gumpalan-gumpalan mimpi
Hanya saja kali ini tak sendiri
Dua bidadari dan kekawan mengiringi.

Menjemput matahari kataku,
Mengaburkan lesu dan rindu,
Lalu membaur di antara hijau toska dan biru

Tak berniat merayap dalam gelap,
Meski terang pagi hampir pasti kembali,
Lalu apa daya ketika detak terus berderap,
Menjumpai keindahan yang (justru) sering lupa disyukuri

Ah, kami lah yang (memang) terlalu lemah
Kamilah yang tak lebih berharga dari seonggok tanah,
Mencoba menghampiri bongkahan belerang penambang,
Mencoba mencicipi secuil nikmat, sejumput senang.

Lalu kembali ke peraduan,
Menyampaikan syukur atas nikmat yang sering tak ter-logika-kan.

๐Ÿ™‚

_______________________________________________________

Perjalanan ke kawah ijen hari ini sama seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya : istimewa. Jika ijen terakhir terkawani teman-teman baru, kali ini dengan dua bidadari kecil yang beranjak dewasa dan tiga saudara yang kini mulai sedikit menua, termasuk penulisnya. Hanya sayangnya, penantian masih meminta waktu hingga masanya tiba (#alibi).

Berkendara dalam satu ruang cukup 6 orang (idealnya), kami bertujuh meluncur dari Jember beberapa menit sebelum Munchen menjadi juara liga champion. Berhentilah kami memarkir kendaraan di depan masjid untuk menikmati dinginnya air di kawasan Sempol ; bersuci lalu menunaikan kebutuhan kami yang terwajibi. Ah, bulan terlalu indah untuk sejenak dinikmati.

Hanya ada dua tikungan di sepanjang perjalanan kami ; kiri dan kanan.๐Ÿ˜€ Trik yang biasa digunakan teman-teman untuk menyiasati jarak yang tak cukup di tempuh 1 – 2 jam. Dan kiri kanan, ku lihat saja banyak pohon tak hanya cemara… Kombinasi warna-warni langit dan kawanannya dengan hijau kuning pepohonan nan sejukkan hati dan mata. Subhanallah…indahnya. Lalu bercanda dengan seisi kereta. Indahnya…

Tibalah di pos pertama, kan kita temui minimal dua penjaga sekaligus pembuka portal akses ke kawah ijen. Beristirahatlah. Di situ ada kursi dan toilet plus cafe yang sedikit dapat melemaskan kembali urat-urat duduk kita setelah berjam-jam berkendara. Ambillah kamera, lihatlah apa yang Tuhan kita ciptakan. Deretan bukit dan gunung bercengkerama. Tebing di tepian berhiaskan bunga mengawali paragraf baru tentang indahnya alam kita. Sssst…jangan terlalu lama di sini, perjalanan masih panjang. Sisakan baterai kamera pinjaman itu, pun sisakan tenaga untuk menemui tantangan baru.๐Ÿ™‚

Wusss….dingin udara yang membentur tepian jendela memaksa masuk dan mengerutkan wajah-wajah ngantuk kami. Ah, lanjutkan saja mimpi. Eh, ini nyata lho. Tak sekedar gambar yang biasa terlihat di kotak televisi.

Perjalananย  yang tak terlupakan.

Sampailah di Paltuding, ialah tempat parkir kendaraan dan start pendakian. Pintu masuk tertutup dan berbannerkan tulisan yang intinya mengatakan agar kita tidak melakukan pendakian dengan alasan keamanan. Lalu?

Maaf, tapi kami terus berjalan menapaki tanjakan untuk menyapa apa yang kami cari meski akhirnya hujan mengikuti dengan bulir-bulir dingin di sepanjang turunan kami. Alhamdulillah….

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s