5 Depa di Atas Awan

oro-oro ombo
oro-oro ombo

Bukan 5cm seperti yang temen-temen tonton di bioskop yang sarat dengan drama. Ini hanya sekedar cerita tentang segerombol kawanan yang berkampunghalamankan (istilah mana ini?) di Porong dan sekitarnya.

Nama-nama mereka bagus, tapi masing-masing memiliki panggilan unik ; Arif “Nyep”, Furqon “Nyak”, Deny “Kosang”, Yasril “Dalbo”, Adi “Kandung”.ย  Mereka adalah teman-teman baru penulis kecuali Mas Arif “Nyep” yang sudah 4 tahun ini berkawan.

Kami bertemu di sebuah rumah yang di ruang depannya penuh dengan peralatan masak memasak di seberang jalan yang penulis sendiri masih awam dengan daerah itu. Di Porong lah.๐Ÿ˜€ Rumah itu rupanya adalah kafe / warung makan milik mas Deny “Kosang” yang memang sudah menjadi tempatnya mencari penghidupan. Yap, dia adalah seorang koki alias juru masak yang professional ; bergelar S1 masak memasak + memang pintar memasak. Dari penampilan dan tata bahasanya memang tak diragukan lagi bahwa dia profesional di bidangnya. (Betapa penampilan dan tata bahasa berpengaruh terhadap kesan orang).

Adi “Kandung”, ialah seorang pengawas di sebuah kontraktor yang melayani jasa pemasangan perlengkapan traffic lightย  dan semacamnya. Yang satu ini tampak adem alias cool dari yang lain. Tapi, ia juga yang palingย tego mengkompori rekannya yang melakukan ‘kekhilafan’.๐Ÿ˜€

Furqon “Nyak”, tinggi dan tak terlalu gemuk. Seorang guru baru di sebuah yayasan pendidikan Islam. Kearab-araban dan cepat jalannya. Rame dan berpengalaman dalam ndaki-mendaki gunung, sama seperti Kandung dan Kosang.

Yasril “Dalbo”, ialah fotografer yang kini sedang menikmati akhir masa kuliahnya ; skripsi. Calon Sarjana Teknik Sipil ini agak gemuk dan tak takut dingin ; bertelanjang perut di ketinggian 2000 mdpl. Brrr….

Yang terakhir,

Mas Arif “Nyep”, seorang abdi negara yang memberikan pelayanan di posisi dan tegangan yang tinggi. Rekanย  penulis atau tepatnya kakak kelas di tempat kerja.

Mereka adalah karib yang telah berkawan semenjak SMP hingga sekarang, kecual “Nyep” dan “Dalbo” yang telah berkawan sejak SD dan masih ada ikatan kekerabatan. Keren, masih kompak di lebih dari 10 tahun berkawan meski masing-masing telah temukan kesibukan. Mantab (y).

Ini bukan tentang mereka, bukan tentang pribadi mereka. Ini tentang perjalanan kami yang berkesan di sepanjang Porong – Mahameru. Yang nyata penuh perjuangan demi ‘sekedar’ melihat matahari meninggi. Kami memulai perjalanan 2 hari kami dari rumah Kosang. Persiapan singkat; tenda dengan frame yang harus disambung dengan isolasi karena beberapa bagiannya patah, matras dua buah,ย headlamp, dan beberapa bungkus mie instan dan perlengkapan memasak plus air dan makanan ringan, termasuk antang*n, hansapl*st, minyak cap kap*ak sebagai antisipasi terhadap cuaca dingin, dan lain-lain.๐Ÿ˜€

Layaknya pendaki beneran, dengan carrier di punggung, kami meluncurkan kendaraan kami dari Porong-Sidoarjo menuju Tumpang-Malang ; tempat kami menginap sebelum selanjutnya menuju ke Ranu Pane. Perjalanan yang dingin di 16 Agustus 2013 malamย  memaksa penulis yang berbonceng dengan Mas “Nyep”, mendobeli jaketnya. Khawatir masuk angin. :p

Benar saja, hambatan pertama kami dapati. Di remang jalanan mendekati Tumpang, ban belakang sepeda kami bocor. Kami yang sebelumnya hampir nyasar ke Blitar, harus berhenti mencari tukang tambal ban. Ban dalamย  yang sudah beberapa menit dipanasi akhirnya urung ditambal; ganti yang baru. Lanjutlah kami menuju Tumpang dengan selamat. Alhamdulillah… menjelang jam 2, kami beristirahat di depan teras pertokoan pasar Tumpang. Seadanya dengan banyak teman di sana.

Kami bangun ketika Adzan Shubuh berkumandang. Kewajiban tertunaikan. Tak perlu mandi, kami langsung mengkukuti perlengkapan kami ke dalam tas lalu naik ke truk yang telah kami pesan bareng dengan rombongan lain. 15 orang. Berangkat sekitar jam 6 pagi (17/08/2013), tak mau melewatkan pemandangan gunung yang selama ini kami lihat di tivi, kami berdiri di samping bak truk. Memegangi kamera kecil kami, berharap bisa abadikan gambar-gambar ciptaan Ilahi.

Terasering kebun sayur, pinus dan kawanannya, hamparan bukit hijau nan sejukkan mata. Subhaanallah, damai rasanya.

Perjalanan kami berdebukan pasir, jalanan aspal yang di awal keberangkatan kami masih mulus berganti dengan paving yang cukup rusak dan merusakkan. Belum lagi tanjakan yang memaksa mesin harus bekerja keras untuk mengantar kami ke Ranu Pane. Tapi itu tak mengurungkan niat kami. Banyak keindahan menanti.

Sampailah kami di Ranu Pane, masih pagi. Beberapa anak negeri memakai seragam kebesaran merah putih berjalan menyisir pinggiran jalan menuju lapangan upacara yang merangkap tempat parkir truk kami. Ya, pagi itu 17 Agustus 2013. Tepat 68 tahun Indonesia merdeka. Parkir, kami turun dari truk beserta perlengkapan kami sementara di sisi lain lapangan, depan tiang bendera, sekelompok paduan suara gladi resik sebelum upacara dimulai. Kami bergegas menepi. Upacara dimulai dan kami berdiri di kejauhan.

Tak lama kemudian kami melangkah menuju tempat registrasi. Sedikit di atas danau kecil itu. Ramai dan tentunya harus antri. Fotokopi KTP dan surat kesehatan jadi syarat wajib yang harus dipenuhi. Dan kami beruntung telah menyiapkannya pagi-pagi sekali.

Lapar perut kami, dan untuk urusan yang satu ini tak ada kompromi. Karena tak akan ada warung di sisa perjalanan kami. Meski agak lama menunggu, sepiring nasi kare ayam segera berpindah menuju perut kami.

Menjelang siang,

berramai dengan puluhan orang di sana, kami lanjutkan perjalanan. Di beberapa ratus meter awal seorang teman dari kelompok lain dikerumuni rekan-rekannya. Ia tampak pucat dan muntah-muntah. Ia tertahan di awal perjalanan. Kami tetap berjalan mengambil jalur alternatif yang cukup menanjak.

Perjalanan kami dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo akan memakan waktu lebih dari 3 jam. ‘Buatlah senyamanmu’, begitu kata Kosang menyemangati kami yang relatif awam dengan pendakian. Kosang memang tak berjalan cepat, tak lambat, santai dan langkahnya pasti.

Pos 1, 2, 3 kami lalui dengan sesekali istirahat. Benar memang, sejatinya kita perlu untuk sesekali berhenti. Bukan untuk menyerah, tapi memgumpulkan tenaga untuk berjalan lagi.

SAM_2356

Medan menuju Rakum tak terlalu menanjak, cukup landai. Hanya saja ia panjang, jadi cukup memakan waktu untuk mencapainya. Banyak pendaki pria dan beberapa di antaranya wanita, bahkan anak-anak yang ikut menikmati perjalanan ke Rakum. Saat indahnya mengintip kami, ah kami kejar saja ia. Rasanya capek kami sejenak tertutupi indahnya Ranu Kumbolo dan bukit hijaunya yang agak menguning karena mungkin beberapa hari tak hujan di sana. Tenda-tenda tampak bertitik dari kejauhan. Mantab.

Turunlah kami di pinggir danau. Menaruh tas kami yang berat dan brrrr… dingin air Ranu Kumbolo membasahi kaki kami yang beberapa jam lalu menopang tubuh dan bawaan kami dan ya ia akan menopang tubuh kami hingga beberapa jam lagi.

Usai bersuci dan berjamak, kami mengisi botol air minum kami dengan air Rakum yang masih bersih. Kami meninggalkan Rakum menuju Kalimati via Cemoro Kandang dan Jambangan. 3 jam-an. Kami sampai di Kalimati menjelang Maghrib. Perjalanan yang cukup menguji kekuatan kaki dan aksesorisnya.๐Ÿ˜€ Tak lama kami dirikan tenda yang didesain untuk 4 orang, itu artinya dua di antara kami berenam harus merelakan diri tidur di luar tenda. Di samping kami rupanya ada tenda kawan Kosang yang cukup untuk berlima. Mereka hanya bertiga. Akhirnya Dalbo dan penulis menyusup masuk bahkan saat pemilik tenda dan kawan-kawannya masih sedang memasak di luar tenda. Kami memutuskan segera tidur karena kata Kosang, perjalanan ke puncak masih sangat lama.

Tak terasa 2 jam-an kami mendengkur di dalam dinginnya sleeping bag. Di luar masih saja ramai dengan mereka yang memang tak berencana atau memang memutuskan untuk tak ke puncak, Kami bangun dan segera mempersiapkan diri. Keenam gerombolan kami berkumpul + tiga dari kekawan yang tendanya kami nunuti.ย Kami -secara informal- memutuskan menjadi satu tim. Berdoa dan yess kami berangkat. Dalbo dan Kandunk rupanya memutuskan untuk tidak melangkah ke puncak. Kandunk esok akan berangkat ke Tegal untuk melanjutkan tugasnya, kebugaran jadi alasan utama berhubung Porong – Tegal memang butuh waktu yang panjang. Sedang Dalbo beralibi bahwa saat tengah malam Karbondioksida turun, tak baik untuk kesehatan katanya.๐Ÿ˜€

Baiklah, kami tetap teruskan misi ; ke puncak. Setidaknya kami merasa lebih aman karena tenda dan isinya dijaga oleh dua kawan kami. Untuk ke puncak, memang kita tidak dianjurkan untuk membawa tas besar / carrier karena tanjakan pasir di depan kami sangat terjal. Membawa bawaan yang berat sangat riskan.

Kosang, yang kami tunjuk sebagai leader dalam pendakian ini berjalan tak biasa. Lututnya bermasalah. Mulai terasa saat bangun tidur katanya. Kami merasa tak enak dan memintanya untuk berhenti ; setidaknya untuk memastikan bahwa kakinya baik-baik saja atau berhenti untuk tak ke puncak yang sudah beberapa kali ia sambangi. Ah, Kosang terus berjalan meski akhirnya ia berada di belakang kami. Kosang dan kawan tenda sebelah menjauh di belakang, sementara penulis, Nyep, dan Nyak yang memang baru pertama kali ke sana, melangkahkan kaki lebih lebar dan lebih cepat. Dari Kalimati kami lewati Arcopodo untuk segera menembus batas vegetasi ; batas dimana tumbuhan tidak dapat hidup.

Kami sampai di batas vegetasi sebelum tengah malam. Mata tertuju ke jalur pendakian puncak yang penuh dengan cahaya lampu headlamp dan senter pendaki. Banyak sekali pendaki yang ingin mengintip puncak tertinggi. Dingin, lelah, dan kantuk mengantar kami menginjakkan telapak kaki kami di atas pasir. Benar saja, setiap langkah yang kami ambil adalah setengah langkah kami di depan, atau bisa jadi sama, atau bahkan di bawah.ย  Perjuangan yang berkesan. Kami bertiga berusaha untuk tetap dekat. Beberapa langkah berhenti mengambil napas, beberapa langkah kemudian kami mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan kaki yang telah berjam-jam bekerja keras. Duduk, saling bersandar, jika kuat, kami akan berusaha untuk tak memejamkan mata. Sayangnya, kami tak kuat, terpejamlah mata. Saat tubuh terasa semakin bergetar oleh dingin, kami segera bangkit dan melangkah kembali. Terus begitu hingga menjelang sepertiga malam.

Bulan dan bintang yang sama sekali tak tertutup awan, tampak dekat dan lebih besar dari biasanya. Tak ingin terlewatkan. Meski tak terabadikan dengan gambar, setidaknya dengan tulisan ini ia masih terasa cethar.๐Ÿ˜€ Ah, perjalanan kami ini memang baru pertama kali dan indah sekali. Kejauhan tampak hamparan awan di bawah kami menutup pandangan kami. Beberapa titik diantaranya berkelap kelip menguraikan cahaya kilat.ย  Subhaanallah.

Sepanjang perjalanan ke puncak, beberapa pendaki wanita yang tampak memaksakan diri harus lebih banyak istirahat. Satu di antaranya ada yang kelelahan dan dikerumuni rekan-rekannya yang berusaha memberikan pertolongan. Bisa jadi ia mengalami hipotermia.

Kami hampir menyerah. Semakin tinggi semakin sedikit lampu pendaki yang terlihat. Sementara di bawah, tampak seperti lampu jalan. Ramai dan huft… Kami harus sampai ke puncak. Pendek-pendek langkah kami mencoba menguatkan kaki. Dan ya, sedikit lagi kami sampai puncak . Josss…..

Saat ufuk mulai terangkan biru, kami menginjakkan kaki kami di puncak tertingi Jawa. Serasa tak percaya, kami benar-benar di puncak Mahameru. Allahu Akbar. Beberapa teman pendaki segera bersujud syukur atas keberhasilannya berdiri di atas tanda-tanda kebesaranNya. Kami segera menggelar jaket dan melepas semua yang memberatkan. Bertayamum dan tunaikan shalat Subuh.๐Ÿ™‚ Subhaanallah damainya.

Tak lama usai sholat, kuning mulai membias di antara biru dan jingga. Mentari sebentar lagi mengantarkan fajar yang kami nanti. Indahnya terrindukan. Pagi menghampiri dan kami sejenak mengambil gambar sebagai kenang-kenangan. Meski tak mewakili keindahan yang dilihat mata sendiri, setidaknya sebagai pelipur rindu jika satu hari nanti kami berkeinginan kembali meski raga tak menyetujui.

Kawan, betapa tak ada alasan untuk tak bersyukur pada-Nya.
Semoga tanda-tanda kebesaran-Nya mengecilkan kesombongan di hati kita,
Semoga tanda-tanda keagungan-Nya merendahkan tingginya keangkuhan kita,
Semoga semua keindahan dari-Nya di dunia tak melalaikan kita bahwa di sana ada yang jauh lebih indah tak terkira.

Senyummu tergambar manis di Mahameru,

๐Ÿ™‚

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s