Potong Rambut Madani

barber
Potong Rambut Madani

Beberapa kali ke tempat potong rambut ini selalu meninggalkan kesan dan pesan. Yap, sebut saja Pak atau Mas Madani. Terus terang saja, karena meski beberapa kali bertemu dan beberapa kali itu pula beliau memegang, menengokkan, mendangakkan, mendingklukkan kepalaku, aku belum benar-benar tau siapa nama aslinya. Tapi mungkin sejurus dengan pepatah,”apalah arti sebuah nama”, kami tetap dapat berbincang layaknya kenal satu sama lain. Dan tahukah, tanpa kita sadari kita sering berbuat hal demikian, entah di bis, di warung, atau di tempat lain.

Tempatnya sama seperti tempat potong rambut lainnya. Ukuran ruangnya juga tak terlalu luas, kira-kira 3 x 4 m. Cermin besar tepat di depan kursi yang agak tinggi, cermin besar di belakang kursi yang dipasang di sudut atas tembok mengarah ke cermin di depan kursi yang memungkinkan pelanggan dapat melihat bagian belakang kepalanya. Sisir, pisau cukur, mesin potong rambut, handuk kecil, sabun, dan berbagai bentuk gunting lengkap di atas meja.

Profesi yang tak perlu banyak modal, kecuali gedungnya, ia geluti sendiri. Jadi tukang cukurnya, jadi kasirnya, jadi pemiliknya, jadi bosnya. Ia memang tak mempekerjakan orang meski telah ia sediakan dua set kursi dan cermin cukur di ruangannya. Untuk yang ini, aku belum tanyakan alasannya.

Ada hal menarik yang membuat tempatnya kaum Adam ini ramai setiap hari, terutama malam hari dan akhir pekan. Ramahnya Mas Madani ini. Ia juga tampak, dan memang profesional, dalam mengolah si kulit bundar agar rambut-rambutnya terpotong rapi dan sesuai gaya yang diinginkan si empunya. Ia gunakan masker penutup mulut selama mencukur. Ini hal kecil yang mungkin kurang diperhatikan pada tukang cukur konvensional lainnya. Dengan memakai masker, setidaknya bau mulut pencukur tidak menghampiri hidung pelanggan. Meskipun pencukur memakai pewangi mulut, tapi saat pelanggan mengajak berbincang, kemungkinan adanya benda lain yang meluncur dari mulut pencukur ke pelanggan atau sebaliknya bisa saja terjadi.๐Ÿ˜€ atau dalam bahasa sederhananya “muncrat”. Hehehe

Yang berbeda dengan tempat cukur lainnya, mas Madani ini rupanya muslim yang taat. Aura wajahnya tampak cerah, dan beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang semisal beliau ini memang tampak seperti itu. Cerah itu berbeda dengan putih, lho. Tak selalu orang yang berwajah putih punya aura yang cerah. Semoga kesan saya ini benar adanya.

Kemudian ada lagi yang meyakinkan saya bahwa beliau ini taat dalam mengamalkan agama. Bukan dengan banyaknya tulisan arab atau kaligrafi yang menjadi hiasan dinding ruang potong rambutnya. Sama sekali bukan. Di dalam ruangannya, kita akan temukan sebuah kertas yang dilaminating dan diberi tali gantungan dimana terdapat tulisan “Buka Kembali Setelah Shalat Asar”, “Buka Kembali Setelah Shalat Isya”. Rupanya, beliau ini benar-benar menjaga shalatnya. Subhaanallah… Mantab!

Mas Madani ini juga berlangganan majalah “Yatim” sepertinya. Di meja dekat kursi tunggu, saya temukan beberapa edisi majalah yang dikelola oleh Yatim Mandiri (YM), yang salah satu penasehatnya adalah Bapak Jamil Azzaini. Dan mungkin tanpa sepengetahuan saya, mas Madani adalah bagian dari donatur YM. :)ย  Jangan memandang orang dari profesi dan besarnya penghasilan. Tak jarang mereka yang sederhana jauh lebih mulia dari kita yang sok punya.

Lalu ritual pegang-pegang kepala, ndangak, ndingkluk, dan berbagai posisi kepala dengan sigap dikerjakan oleh mas Madani. Sambil memainkan gunting di tangan kanan, sisir di tangan kiri, ia menghabisi apa yang perlu dihabisi hingga kepala tampak rapi kembali. Sesaat saat ia menghela nafas dan mengganti alat cukurnya, mulailah perbincangan kami.

“Rumahnya sampean mana, Mas?” | “Jalan Letjen Sutoyo, Mas” dan bla bla bla… seperti biasa mengawali pembicaraan. Lalu di tengah jalan, ia tanyakan umur saya.

“Berapa umur sampean?” | “23 Mas, mau 24, insyaAllah”

“Pekerjaan sudah tetap, khan?” | “Ya.”

“Apa ajaran rasulullah kalau sudah diberikan kemampuan?” | “Menikah.”, jawabku tersenyum,”sedang ikhtiar ini, Bos”

“Iya, ikhtiarnya jangan diem aja. Tapi cari…!”

Kemudian ia sampaikan bahwa menikah adalah bagian dari sunnah yang diajarkan rasuulullah. Wajib hukumnya bagi yang telah siap. Ia juga ceritakan bagaimana dulu ia menikah (untuk yang ini ia ceritakan saat awal berlangganan potong rambut) dan betapa ia menyesal tak dari dulu menikah.

Kalau tahu nikmatnya menikah, mungkin saya sudah menikah sejak umur belasan, Mas.” katanya mantab.

Semenjak menikah, ia merasakan perbedaan yang banyak dengan masa bujangnya. Ia merasa kini rizkinya lebih bisa diatur. Ibadahnya apa lagi, semenjak menikah kegiatan ibadahnya jadi lebih tekun terlebih setelah kelahiran anaknya. Ia lebih dimudahkan untuk dzikir malam katanya. Subhaanallah…

Dan menikah memang bagian dari memuliakan sunnah. Dan dalam setiap sunnah selalu ada hikmah yang mungkin akan kita ketahui setelah kita melaksanakannya.

Sederhananya, pesan mas Madani yang terakhir ini, “Menikah itu membawa bahagia lahir dan batin”. Benarkah? Silakan buktikan.๐Ÿ™‚

__________________________

dari kawanmu, 28/09/2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s