Sri Tanjung | 1610013

Terjadwal 10.10 dari stasiun Barat. Tiket yang telah saya beli sejak dua minggu lalu bertuliskan Madiun di kolom stasiun keberangkatan. Sempat khawatir ditolak karena saya berangkat tepat satu stasiun sebelum Madiun, meski berangkat dari Jogja pun harga tiket sama. Bagian pemeriksa mencocokkan nama saya di KTP dengan yang tercantum pada tiket dan tok “TELAH DIPERIKSA” terbubuh di tiket tanda kekhawatiranku gugur. Alhamdulillah…

Baiklah, saya duduk di kursi panjang di samping rel. Menanti Sri Tanjung menghampiri. Ada seorang Bapak yang mungkin berusia 50-an dan seorang anak yang bisa jadi cucunya, duduk di kursi yang sama denganku. Mereka menyambutku dengan kalimat yang biasa ditanyakan di ruang tunggu kepergian,”Mau ke mana, Mas?” “Jember, Pak.” Jawabku dengan sedikit nyengir. Ya, waktu itu cukup panas meski belum genap jam 10.00 WIB. Cuaca seharusnya tak berkorelasi dengan suasana hati. Seharusnya… Ah, mungkin saya terlalu muda, bahkan di usia yang kian renta pun tak dewasa dalam bermurah senyum pada sesama. Atau bahkan, sampai sekarang belum temukan arti dari kata dewasa.๐Ÿ™‚

Tepat waktu, 10.10 WIB, Sri Tanjung datang. Kritik di salah satu lagu lama Iwan Fals tentang kebiasaan kereta terlambat hingga 2 jam rupanya telah tertanggapi dengan baik. Ya, PT KAI kini tampak jauh lebih baik.

Setelah 2 menit berhenti, Sri Tanjung meluncur dengan tubuhnya yang mengular. Menyusur jengkal demi jengkal rel dengan suaranya yang bergemuruh. Khas kereta api kita. Akankah nanti kita temui kereta tak bersuara? Ah, tak perlu rasanya. Karena salah satu yang membuatku rindu kampung halaman adalah suara kereta yang bergemuruh, yang terdengar hingga jauh kala subuh. Tentu dengan suara bel-nya yang khas. Tuuuuuttt….

Entahlah, akhir-akhir ini saya kerap memilih kereta api untuk mudik ke tempat kelahiran, Magetan. Utamanya sejak lebaran tahun ini. Baik, coba saya uraikan kemungkinan-kemungkinan yang menjadi alasannya :

  1. Jalan Raya kini mulai lebar, tapi kendaraan pribadi kian padat. Hingga jika berjajar pun jalan masih kalah lebarnya. Tak urung macet jadi rutinitas tahunan. Eman waktune…
  2. Kereta Api kini lebih nyaman. Ya, lebih nyaman. Saya akui, awalnya saya bukanlah fans kereta. Dulu, dulu sekali, saya pernah naik kereta dari Tegal ke Solo Balapan. Asongan yang tak tertib, pengamen, dan penjual jasa lainnya tak berhenti hilir mudik di jalur keluar masuk penumpang. Belum lagi gerbong yang sepanas suhu di luar, di tambah berbagai macam aroma makanan yang keluar dari pori-pori kulit orang sepenuh gerbong.๐Ÿ˜€ Begitu berkesan di pertemuan pertema. Dan sejak itu, saya menolak setuju dengan pepatah,”Jatuh cinta pada kesan pertama”, khusus untuk kereta. Tapi kini, silakan nikmati perjalanan Anda dengan Kereta Api.๐Ÿ™‚
    Jangan Anda bayangkan suasana seperti yang biasa kita saksikan di TV, suasana kereta api luar negeri, Jepang misalnya, tapi yang pasti banyak perbaikan di sana sini.
  3. Yang terakhir ini, faktor X. Coba tebak apa faktor X yang mengilhami saya beberapa kali membeli tiket kereta api.
    “Teman? Bisa jadi. Teman Dekat? Bisa jadi. Pacar? Tidaaaakkk….!!!” #EatBulaga Mode On.

Ada hal menarik yang membuat perjalanan selalu berkesan. Untuk hal ini berlaku umum untuk semua jenis transportasi massal ; bis, kereta, kapal. Apa yang menarik?

Pernahkah kita mencoba mengajak berbicara dengan orang yang duduk di samping atau depan kita? Jika terjalin komunikasi yang nyaman, maka pembicaraan kita bisa berlangsung lama dengan satu atau berbagai macam topik yang mengalir begitu saja. Nah, yang menarik adalah, kita atau mungkin ini hanya terjadi pada saya, tak jarang malu menanyakan nama lawan bicara di awal perbincangan. Pun tak jarang, hingga perbincangan usai dan berpisah kita tak tahu namanya. Satu saran saya, usahakan perbincangan kita dengan saudara kita itu meninggalkan manfaat di sana. Setidaknya, ia tahu bahwa kita masih termasuk di antara manusia yang peduli terhadap sesama. Setelah itu, apalah arti sebuah nama.๐Ÿ™‚

Ya, tulisan ini tertulis di atas gerbong 1 Sri Tanjung. Jika Anda bertanya mengapa saya tidak sedang berbincang dengan orang di depan saya, itu karena saya bukan termasuk di antara yang berani memulai pembicaraan dan tak cukup nyali untuk sekedar menyapa dengan orang baru. Wanita, terlebih lagi. Kecuali ibu-ibu dan bapak-bapak yang memang seharusnya kita memuliakannya.

Seorang ibu-ibu di samping sayaย  hendak pulang ke Banyuwangi setelah berkunjung ke salah satu anggota keluarganya di Solo. Beliau telah duduk di 12E sebelum saya. Beberapa kali di awal perjalanan tadi, Beliau sempat berkomunikasi dengan anaknya,”Tambahono tepung kanji…” dan beberapa macam bumbu dapur Beliau sebutkan. Rupanya, keluarga yang ia tinggalkan tadi hendak memasak daging kurban, entahlah mau dimasak apa, hanya ingatku di akhir pembicaraannya, “Gorengnya seperti dadar jagung.”

Ibu yang satu ini tampak percaya diri. Tak seperti aku yang hanya menunduk sambil menekan keypad menyalurkan hobi. Beliau tak malu harus berbicara cukup keras saat menelepon tadi, apalagi saat kereta berhenti, bisa jadi satu gerbong terdengari (Jawa : krungu). Jangan berpikir negatif, Bapak-bapak atau orang lain boleh merasa terganggu dengan suara ibu, tapi bisa jadi apa yang ibu sampaikan ke anaknya tadi, menjadi tambahan ilmu, khususnya untuk ibu-ibu yang hobi memasak di gerbong ini. Mendengar pembicaraan ibu itu, saya teringat adik saya yang berusaha membuat bakso untuk kakaknya yang sering ngluyur saat pulang kampung. Ah, aku mencintai mereka.

Baiklah, Kawan, mari kita akhiri tulisan ini.

_____________________________________________________________

Jangan melihat sesuatu, apapun itu, dari satu sudut pandang saja.ย  Jika tampak buram, coba mendekatlah, barangkali mata kita memang tak kuasa melihat dengan jelas di kejauhan. Jika tak nyaman di pandang dari dekat, menjauhlah sedikit atau beralihlah agar ia tampak jelas.

Jika benar, maka semoga Allah tunjukkan bahwa itu benar dan berikan daya untuk mengikutinya. Pun jika salah, maka semoga Allah tunjukkan bahwa itu salah dan berikan kemampuan untuk meninggalkannya.ย 

Masih hari tasyriq, Selamat Idul Adha 1434 H๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s