Wedang Ronde dan Mie Ayam

Entahlah, ini begitu rumit untuk diceritakan, apalagi menuangkannya dalam semangkuk tulisan lalu membiarkan semua orang menikmati berbagai macam bumbu yang telah terracik lengkap dengan kuah dan krupuknya, tak lupa ayam bumbunya. Aku sedang tidak menceritakan tentang mie ayam. Mie ayam kesukaanku rasanya selalu nikmat, bahkan ingatku tak pernah menyisakan, dimana saja belinya.

Ya, ini bukan mie ayam, Kawan. Ini tentang sesuatu yang entah darimana datangnya. Jika mie ayam selalu khas dengan bumbunya, maka ini …. entahlah, kau rasakan sendiri lah.

ย *

Aku tak mencoba menilainya karena ‘terbiasa’. Bukan, bukan itu lagi mauku, dan tentu bukan seperti ituย  mau-Nya. Aku pernah sejenak beranjak, mulai menikmati apa yang memang seharusnya aku tempuh kini. Bukan untuk pergi lalu sama sekali tak kembali untuk memetiknya, sekali lagi bukan. Aku sedang merantau, mencari jawaban atas pertanyaan yang selama ini menggantung di antara nurani dan logika. Ya, aku khawatir ia akan jatuh di tempat yang tak semestinya, lalu logika berkuasa, berpikir sekenanya layaknya mereka yang hidup tanpa nyawa, tanpa jiwa.

*

Ah, perjalanan ini selalu berkesan. Bertemu dengan mereka yang memang telah digariskan untuk menemuiku, mengantarkan benih-benih rindu melewati jalan nan syahdu. Aku sangat beruntung, bukan? Dan, Kawan, aku sama sekali tak tahu siapa yang ada di ujung jalan. Aku sempat berbelok beberapa kali, mencoba peruntungan yang tak semestinya aku hampiri. Bukan, itu salahku, aku tak pernah benar-benar yakin akan pemilik hari, yang tak pernah ingkar datangkan matahari di setiap pagi.

Hei, lihatlah! Ketika aku sedang bercengkerama di ujung belokan, mereka tak pernah sekalipun pergi, menungguku di kejauhan, di tepi jalan itu, jalan nan syahdu.

Aku bercerita banyak pada mereka. Tentang belokan yang menyenangkan, tentang dendang lagu kesukaan, tentang apa saja yang membuatku bisa bertahan disana, di belokan nan tajam, di tepi jurang nan curam, dan tak butuh apapun untuk sekedar terjun bebas lalu tenggelam. Dan kalian kawan, melihatku dalam-dalam. Tak bersuara, tapi pandangmu mengingatkan. Ujung tali itu terlemparkan, lalu kuikat tubuhku yang lebam terbentur bebatuan, seperti mau kalian. Tak lama, kalian yang tak terlalu banyak itu menarikku perlahan. Merawatku lalu kembali menemaniku di sepanjang jalan.

Kawan, sekali lagi, aku tak tahu siapa di ujung jalan. Hanya menerka meski kadang coba mereka dengan berbagai pembenaran. Lalu, Kawan, aku melihatnya sekelebat, semakin membuatku penasaran. Entahlah, bagaimana itu bisa terjadi, aku bahkan belum melihat ujung jalan ini. Lalu bagaimana ia begitu mengusik, seakan memintaku berlari. Entahlah, Kawan, seharusnya ini tak serumit tulisan ini. Aku hanya hendak menikmati perjalanan ini lalu memetiknya di awal-awal pagi. Aku enggan berlari, karena aku tak cukup kuat untuk itu. Aku hanya ingin berjalan, lalu sesekali berhenti. Mengisi perut dengan semangkuk mie ayam sembari menikmati rembulan kala awan menepi, membiarkan langit menunjukkan keindahannya. Dan sluuurrp… hangat jahe wedang ronde hangatkan kerongkongan lalu menjalar ke seluruh tubuh ini.

Dan siapapun di sana, di ujung jalan ini, jalan nan syahdu ini, bersabarlah, aku tak hendak berlari, tapi yakinlah, meski berjalan, aku akan sampai di sana, menjemputmu, menemanimu, tepat waktu. Jika tiba masanya, bersiaplah mendengar ceritaku. Tentang perjalanan, tentang belokan, pun tentang wedang ronde dan mie ayam.๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s