Kisah Sepanjang Perjalanan

Kembali menyusuri jalanan antara Banyuwangi – Jember, menuju sepetak kamar tempat favorit melepas lelah. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali dalam 4 tahun belakangan ini. Berkali-kali mencari cara menikmati setiap jengkal perjalanan yang singkat ini.

Sepanjang perjalanan, banyak hal yang kita temui. Entah itu menarik, menyebalkan, menyenangkan, atau bahkan membosankan karena sering kali kita jumpai.

Perjalanan demi perjalanan, tujuan demi tujuan yang ditempuhi adalah bagian dari kisah kita, kisah hidup kita. Termasuk di dalamnya cara kita menikmati setiap perjalanan. Dalam satu kendaraan umum misalnya, mudah saja kita dapati seorang penumpang sedang memainkan jemarinya di atas tombol telepon genggam, pandangannya fokus ke layar, lalu sesekali tersenyum, cemberut, menahan tawa, dan berbagai macam ekspresi lainnya. Meski tak jarang pula, ada yang raut wajahnya tanpa ekspresi. Lalu ada penumpang yang lain yang asyik mengangguk-anggukan kepala dengan sepasang headset di telinganya, ada yang sambil berkaraoke ria tanpa suara, lipsync, membuka tutup mulutnya mengikuti lirik lagu yang di dengarnya.

Ada pula penumpang yang memandangi apa saja yang ada di tepi jalan melalui jendela. Melihat sawah, gunung, matahari, kemacetan, kendaraan sebelah, pedagang asongan, dkk. Bisa jadi yang seperti ini sedang mencari inspirasi.

Lalu ada juga yang berusaha mengajak berbincang tetangga bangkunya, bertanya hendak kemana dan berbagai pertanyaan lainnya. Dan tak jarang lupa menanyakan nama lawan bicara. Apalah arti sebuah nama, tak tahu pun perbincangan bisa mengalir begitu derasnya.

Tak sedikit yang dengan santainya menyandarkan kepala di bahu tetangganya, terpejam, beberapa tak cukup bernafas dengan hidungnya-membuka mulutnya, menganga bersuara.

Bermacam cara orang mengisi perjalanan, perjalanan yang bisa jadi singkat, bisa jadi panjang. Tergantung maksud kepergiannya, tujuannya, jaraknya, dan utamanya cara kita mengisi perjalanan itu sendiri.

Sesampai tujuan, beberapa orang akan bercerita tentang perbincangannya dengan tetangga bangkunya. Beberapa bercerita tentang kemacetan, sawah, matahari, dan apa saja yang sempat ia melihatnya di sepanjang perjalanan. Beberapa asyik lomat-lamit menggerakkan bibirnya tanpa suara, masih dengan headset terpasang di telinga, menirukan bait lagu entah yang ke berapa. Beberapa lagi bercerita tentang buku yang dibacanya. Beberapa sisanya, masih menguap mengumpulkan sisa nyawa yang belum genap. Bahkan ada beberapa yang turun tanpa cerita, datar saja.

Lalu bagaimana dengan kisah perjalanan kita? Sesampainya di tujuan, adakah kisah terbaik yang bisa kita sampaikan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s