Kisah Keyakinan dan Keteguhan

Menarik untuk kita, yang biasa mengedepankan logika.

#

Coba bayangkan, kita berada di sebuah tempat, mencari sesuatu, mata air misalnya, dan tempat itu gurun pasir. Kita cari, kita periksa tempat itu (sebut saja A), tidak ada. Kemudian kita pindah lagi ke tempat lain yang sepertinya akan ada airnya, kita periksa tempat baru ini (sebut saja , juga tidak ada. Aduh, bagaimana ini? Kita balik lagi ke tempat A, diperksa lagi, tidak ada. Kita balik lagi ke tempat B, tetap tidak ada. 7 kali kita memeriksa bolak-balik A, B, tetap tidak ditemukan air tersebut.

Maka pertanyaan simpel yang segera memenuhi benak orang2 rasional dan modern hari ini, hei, ngapain pula kita sampai 7 kali memeriksa A, B? Bukankah sekali saja kita periksa tidak ada maka cukup? Apa susanya dipastikan, tidak ada, maka cukup sudah. Apalagi itu gurun pasir, dimana pula akan keluar mata air? Tidak masuk akal, di tengah terik matahari, kering kerontang, akan ada mata air. Anak kecil saja tahu, tidak akan ada.

Tapi kisah ini bukan soal “rasionalitas”; kisah ini tentang keyakinan dan keteguhan. Kisah ini tentang pantang menyerah. Itulah yang terjadi saat Bunda Hajar berlari2 mencari air demi anaknya, Ismail. Si kecil yang masih balita haus, menangis. Maka, Bunda Hajar menggunakan naluri keibuannya, bergegas mencari air. Agar gerakannya mudah, dia meninggalkan si kecil sebentar. Dia berlari, bergegas, bolak-balik Shafa-Marwa, yang jaraknya kurang lebih 300m. Dia lari, dia bergegas lagi. Anaknya haus. Apakah Bunda Hajar tidak tahu kalau di sana tidak ada air? Tidakkah dia cukup sekali memeriksa?

Tidak. Bunda Hajar menolak untuk percaya, sekali lagi, Nak, sekali lagi Bunda akan berlari ke sana memeriksa. Jangan menangis. Apakah tidak cukup dua kali saja? Kenapa harus berkali2? Tidak. Bunda Hajar menolak berhenti percaya. Dia tahu persis, ketika suaminya, Ibrahim, meninggalkannya karena perintah Allah (yang lagi2 aduh, bagaimanalah seorang Ibu ditinggalkan bersama balitanya? “rasionalitas” mana yang akan masuk akal?), Bunda Hajar telah memegang teguh keyakinan tersebut.

Kisah ini sungguh tentang keyakinan dan keteguhan. Allah sayang sekali pada orang2 yang memilikinya. Apakah agama itu tidak rasional? Tentu saja agama itu rasionalitas sempurna. Masuk akal. Tapi manusia kadang menyisihkan faktor bahwa banyak penjelasan yang tidak tergapai dengan otak–dan bukannya menyadari hal tersebut, sebaliknya lantas merasa sudah pintar sekali. Saat Bunda Hajar semakin terdesak, saat ujian itu tiba di puncaknya, hadiah terbaik dikirimkan dari langit, berderap cepat sekali. Dari kaki Ismail yang dihentak2kan di atas tanah, keluar deras air yang bening. Itulah air zam-zam, yang abadi hingga hari ini.

Wahai, masalah hidup kita kecil saja dibanding Bunda Hajar dan si kecil Ismail yang ditinggal sendirian. Maka, setiap kali kita merasa sangat terdesak, seperti tidak disayang lagi oleh Allah, ingatlah Bunda Hajar, dia menolak berhenti percaya. Mari periksa sekali lagi, mari coba sekali lagi. Karena keyakinan dan keteguhan sungguh tidak ternilai harganya. Percayalah.

-Darwis Tere Liye-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s