Yang Lebih Berharga dari Laba

“TERIMA KASIH ANDA TIDAK MEMINTA BUKTI BAYAR KOSONG KEPADA KAMI”

Kalimat di atas tertulis di atas selembar kertas yang di tempel pada tembok tepat di belakang meja kasir sebuah warung makanย  di pinggir jalan di Semarang yang kami hampiri dua hari yang lalu. Ingatku, warung itu dekat dengan gedung kampus Universitas Diponegoro yang baru. Pondok Makan “Nyamleng” namanya.

Banyak sekali inovasi strategi dagang baru yang digunakan oleh para pedagang atau pengusaha. Tujuannya tentu tak lain tak bukan adalah untuk memperoleh laba / keuntungan yang maksimal dari usahanya. Namun, tak semua pengusaha berorientasi hanya pada laba semata. Beberapa pengusahaย  berusaha jujur dalam menjalankan bisnisnya sejalan dengan strategi yang ia terapkan.

Contohnya adalah warung Nyamleng yang aku sebutkan di awal. Si empunya warung prasmanan itu berusaha jujur dalam melayani pembelinya. Membaca pesan itu, serasa ada yang bertanya di kepala, “Jika ada larangan merokok, berarti banyak orang yang (biasa) merokok. Lalu, jika ada ucapan terimakasih tidak meminta bukti bayar kosong, berarti … (?)”. Be positive. Setidaknya, dengan pesan itu, kasir telah berusaha untuk jujur dan berharap pembeli juga jujur.

Satu lagi, seorang pengusaha yang menjadi langgananku dan teman hampir tiap bulan. Ia lah pemilik barber shop atau tempat cukur rambut “Madani”. Wajahnya tegas menyenangkan. Beliau ini grapyak dan tak sungkan berbalas tanya saat pelanggannya mengajak bicara. Yang berbeda dengan tukang cukur lainnya adalah, tiap waktu sholat tiba ia menutup tempat usahanya. Digantunglah tulisan “Buka lagi setelah Shalat …”. Beliau menjaga kewajibannya shalat wajib jamaah di masjid / mushollah lalu pulang dan makan bersama istri dan anaknya sebelum kembali ke tempat cukurnya. Selalu ada kesan dan pesan tiap bertemu dengan beliau. Meski hampir tiap bulan bertemu dan banyak berbicara, sayangnya, aku selalu lupa menanyakan nama beliau. Yang saya ingat tarif cukurnya relatif murah jika dibandingkan dengaan tempat lain, tujuh ribu rupiah.๐Ÿ˜€

“Nyamleng” dalam bahasa Jawa berarti nikmat, sedang “Madani” berarti masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Sepertinya kedua pengusaha itu tak asal memilihkan nama untuk tempat usahanya. Jika ada kalimat “Apalah arti sebuah nama?”, jawab saja,”Nama bisa jadi doa dan cita-cita”.

Bukan. Ini bukan tentang nama usaha beliau berdua. Tapi ini tentang pelajaran sederhana dalam berwirausaha dari keduanya,

“Ada yang lebih berharga dari sekedar laba.”

๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s