Kayana, Odiq, Setyo, dan Regu Semut

Sebuah cerita dari kawan lama, Setyo dan Odiq.

Dulu, dulu sekali, waktu mereka masih muda, masih baru lulus SMK, Setyo bekerja di sebuah agen pulsa telepon / voucher elektrik. Ia bertugas sebagai operator yang menjalankan sebuah aplikasi pengisi deposit / saldo pulsa untuk counter-counter pengecer pulsa. Sederhananya, si Setyo bekerja sebagai operator grosir pulsa.

Sementara Odiq, selepas SMK ia menganggur. Ia berrencana kuliah di satu sekolah tinggi tak jauh dari rumahnya, di Ngawi. Di sela waktu, Odiq yang telah berkawan dengan Setyo sejak regu Semut terbentuk, mengunjungi Setyo di tempat kerjanya.

Setyo lebih sering mendapat shift malam. Dari jam empat sore hingga sebelas malam. Waktu yang tepat untuk jaduman bagi anak muda seusia mereka.

Malam itu, Odiq tak sendiri, ada Fendi yang ikut datang. Fendi juga anggota dari regu Semut. Mereka bertiga yang masih muda, atau boleh dibilang remaja, berbincang tentang masa depan.

“Mau jadi apa kita setelah ini?”

Mereka bertiga memang dari keluarga sederhana, maka wajar saja jika mereka tak tahu hendak kemana. Inginnya jadi bagian dari abdi negara yang rutin mendapat gaji bulanan, pensiunan, tunjangan-tunjangan. Sejahtera, katanya. Tapi tahukah kalian, Kawan? Di sana, di tempat Odiq, Setyo, dan Fendi berada, menjadi abdi negara tak cukup dengan mengikuti tes masuk. Meski ada kesempatan untuk benar-benar murni, kecilnya kesempatan itu membuat banyak orang pesimis bahkan untuk sekedar mencari info pendaftarannya.

Odiq, ia tak henti harap. “Bukan pekerjaan tetap yang kita cari, tapi tetap bekerja itulah pekerja sejati.”

Akan sangat panjang bercerita tentang mereka. Hingga detik ini, mereka masih menuliskan kisahnya saat sendiri dengan kesibukannya masing-masing atau saat berkumpul bersama.

Ini sedikit tentang mereka yang bisa jadi bermanfaat untuk dicerna.

*

Satu bulan berlalu, waktunya Setyo gajian. Ini akan menjadi gaji pertamanya. Ia berangkat dengan semangat, diantar oleh sepupunya dengan Honda 800 yang hanya memiliki tiga gigi transmisi. Sore itu ia tak mbontot seperti biasanya. Nanti beli mie ayam saja katanya.

Pak Anton, bos besar Kayana seluler datang selepas maghrib. Wajah Setyo semakin bersinar. Setyo tak pernah menandatangani kontrak apapun, ia hanya berniat bekerja. Karena menurutnya, kini -waktu itu- bukan masanya lagi meminta uang saku ke Emaknya. Masa berganti, Setyo mulai belajar dewasakan diri.

“Yo, ini gajimu. Itungen, kalau lebih balikin ya, kalau kurang ikhlasin aja.” Pak Anton bercanda dengan wajah seriusnya. Wuttss… cepat sekali Setyo menyambut uang dari tangan pak Anton seperti menyambut tongkat estafet terakhir. Pak Anton nyengir melihat kelakuan Setyo.

Setyo merapikan gaji pertamanya. Menumpuk lembar-per lembar uangnya dengan posisi yang sama. Meluruskan pojok-pojok agar pas sudutnya. Rapi sekali. Ia menjepit tumpukan uang itu dengan ujung ibu jari dan telunjuk tangan kirinya. Pas di tengah.
Pandangannya fokus pada uang di tangan kirinya, bersamaan dengan itu mak srett ujung telunjuk tangan kanannya mendarat di lidahnya. Merasa cukup tebal ‘lem’nya, ia mulai menghitung jumlah lembaran hijau itu bagai pegawai bank. Bedanya, tiap tiga lembar, Setyo menambah lem alami di telunjuknya, khawatir ada yang terlewat.

“Satu, dua, tiga, …” hitungan Setyo terhenti di angka sembilan, tepat sekali. Sepertinya Setyo telah tahu jumlahnya adalah kelipatan tiga. 180 ribu rupiah. “Alhamdulillah…” Setyo bersyukur.

Pak Anton yang sedari tadi melihat tingkah Setyo pamit pulang, ia harus segera ke apotiknya yang tak jauh dari tempat Setyo bekerja, meninggalkan sekotak pisang goreng seberang jalan dan sebungkus nasi goreng sebelahnya penjual pisang goreng. Hari yang menyenangkan. Gajian, makan gratis + gorengan.

Diundanglah Odiq, Fendi, dan eks anggota regu semut lainnya. Setyo mentraktir mereka mie ayam pak Min setelah menyisihkan sebagian gajinya untuk ibunya. Waktu itu mie ayam masih 3500 perak, 5000 plus es teh.

“Selalu menyenangkan bisa makan bersama dengan sahabat, bukan masalah apa yang dimakan, tapi guyonan ini yang nantinya akan kita rindukan.” Setyo berkaca-kaca mengucapkan kalimat pamungkas sesaat sebelum acara traktiran itu buyar dan Odik cs pulang.

*

“Bro, aku diterima jadi abdi negara.”
“Alhamdulillah, selamat, Bro! Lanjutkan!”

*

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s