Kanan Kiri Jalan

Kawan,
Gumpalan mendung tak selalu berakhir menjadi titik hujan. Ia bisa saja terbawa angin entah kemana, memisahkan diri, bertahan dalam malam, lalu turun cemberut, mengabut di sela hati yang kalut.

Lihatlah, dua ibu tadi menggaruk. Bekerja di tanah orang, mengusahakan sekuat tubuh agar rumput tercerabut. Membiarkan hanya padi yang tumbuh subur di lahan gembur. Kaki-kakinya tanpa alas melangkah, tenggelam hampir selutut. Tangannya mendorong penggaruk, berirama, “srok..srok..srok”, di pagi yang masih dini. Adakah beliau berdua sudah sarapan?
Ah, lalu apa kabar ibumu?

Terus berlalu, menerabas sisa rintik hujan. Memainkan ibujari, sesekali melihat keluar jendela, mencari, berharap ada kekata tertulis di tepian.

Ada yang mengepalkan tangan, mengangkatnya seatas ketiak, jasnya tampak ‘mbulak’ terlalu lama berjemur. Songkok hitamnya pun sama, kecoklatan. Ia tak lelah berdiri disana, berlama-lama, bahkan mungkin hingga masanya terlewatkan. Apa yang membuatnya bertahan? Teman. Ya, banyak teman-temannya di sana. Pating terembel di kanan-kiri jalan. Adakah alasan untuk memilihmu, jika nyaman pengguna jalan saja tak kau perhatikan, jika mengenalmu saja kami tidak, jika kau saja mengajari, berkoar sana sini, lalu massamu mengganggu perjalanan kami. Berramai bunyikan klakson tak jelas, mbleyar-mbleyer tak karuan. Bukankah BBM mahal? Entahlah, saking banyaknya foto sejenismu, aku bahkan tak hafal siapa namamu. Apalagi, jika kau bawa nama agama, aku hendak berdoa, semoga tak kau gadaikan ia hanya untuk dunia. Jika kau temukan keabu-abuan, apalagi yang hitam, maka tak selayaknya mencari pembenaran. Ada yang lebih mahal untuk dipertahankan. Jujurlah, maka jika kami salah pilih, sejatinya kau sudah jadi yang terpilih.

Baiklah, aku hanya ingin menulis, lepaslah foto-fotomu jika usai masanya. Jika keluar modal besar memasangnya, jangan kau cari pengganti dengan hasil jerih kami. Apalagi dengan korupsi. Tak lihatkah dua ibu tadi? Mencari upah sedari dini, dengan tenaganya sendiri, berjalan kaki, berjuang untuk keluarganya meski mendung menyelimuti, meski hujan tak berkompromi. Hanya saja, upahnya yang tak seberapa bisa jadi lebih mulia. Belum lagi dari upah itu, ibu-ibu itu membayarmu yang saat membahas nasib mereka pun bisa-bisanya engkau terangguk, mengantuk, mendengkur, bermain gadget, tak malu. Di ruang dingin, makan gratis, snack gratis, rumah gratis, mobil gratis. Ah, kalian, sukanya gratisan.
Tapi masih ada harap, meski tak banyak, kami percaya masih ada di antaramu yang setidaknya bisa dipercaya.

*

Lanjutkan perjalanan,
Hanya hijau kanan kiri pekarangan. Lalu tertulis tugu kecil setinggi 2 meteran, “Selamat Jalan”. Kami hampir sampai, tapi belum sarapan.
Itu cerita perjalananku pagi ini, ceritamu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s