Terlalu

Barangkali kau terlalu sering meninggalkan malam sendiri.
Kau terlalu sibuk dengan urusan pekerjaanmu itu. Tahukah kau, sudah berapa generasi terlewati, pekerjaan belum usai hingga hari ini.

Kau terlalu sibuk dengan mainan barumu itu. Ya. Itu. Entahlah kau sebut apa ia. HP, Tab, Gadget, atau apa sajalah. Tahukah kau, sudah berapa kali orang-orang kecewa padamu. Kau bahkan lebih perhatian dengan mainanmu itu sementara ibu sedang berbincang mengutarakan rindunya padamu.

Atau kau terlalu sibuk dengan televisi. Ia sajikan untukmu berbagai hidangan mengenyangkan. Sayangnya, lebih banyak yang tak berisi, tak bergizi. Ia hidangkan berbagai minuman kesegaran. Ah, segarnya hambar. Sungguh, ia tak menghilangkan kehausan.

Atau kau terlalu sibuk dengan macam-macam pernik dunia ini. Hingga kau lupa bahkan jam berapa ini. Sudahkah kewajiban terpenuhi. Atau sudahkah kewajiban kita guguri (?) Ah, masih ada waktu. Nanti saja. Begitulah kita adanya.

Atau lagi, entahlah. Kalian teruskan saja sendiri.

Aku hanya sedang menatap separuh bulan malam ini. Bisa jadi ia merindukanku, merindukanmu, merindukan kita. Ia merindukan saat dimana bulan adalah bagian dari semesta.

Berhentilah sejenak dengan ‘terlalu sibuk’mu. Ada yang mulai kering, dan sungguh ia butuh kau siram agar tak mati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s