Barangkali kita perlu bertanya

Barangkali kita perlu bertanya,
Pada kakek tua itu, yang wajahnya cerah bercahaya, yang memenuhi wajibnya di masjid pada tiap awal harinya, sembari duduk dikursi lipat sbg ganti rukuk dan sujudnya.

Barangkali kita perlu bertanya,
Pada bapak setengah baya itu, yang bermata indah, yang harus meraba agar ia sampai pada pengeras suara untuk iqomah.

Barangkali kita perlu bertanya,
Pada kakek yang kurus keriput itu, yang menekuk tubuhnya tuanya yang renta pada jok becak yang tak lebih semeter itu, menanti penumpang yang kini lebih memilih becak bermesin yang itu tentu bukan miliknya.

Barangkali kita perlu bertanya,
Pada nenek itu yang menunggu bis di depan warung itu. Lihatlah, kawan! Bagaimana beliau yang cantik itu memaksa matanya yang tua melihat kejauhan untuk sekedar naek bis menuju tempatnya mencari makan. Bisa jadi yang beliau dapat hanya cukup untuk ongkos bis. Bukan itu saja. Sudahkah kita berhenti sejenak, menemaninya sembari melambaikan tangan saat bis yang hendak beliau tumpangi datang? Hei, sungguh jika kau lakukan itu, kaulah manusia.

Barangkali kita perlu bertanya,
Seberapa tua kah kita?
Apakah kita harus menunggu tua untuk memenuhi kewajiban kita sebagai seorang hamba Allah? Memenuhi masjid dengan khusyu’ shalat dan majelis ilmu.

Adakah kita menunggu tua untuk bersyukur atas semua karunia indera yang Allah berikan sempurna untuk kita? Ataukah kita yang pandai ini lalu beralasan dengan berbagai pembenaran yang kita logikakan sendiri? Ah, kawan, tak malu kah kita pada bapak yang meraba itu? Ia begitu syahdu melantunkan iqomah untuk meminta kita bergegas karena shalat segera didirikan. Bisa jadi ia tak sekalipun melihat alam dan seisinya, tapi ia begitu meyakini kebesaranNya, keberadaanNya. Kita? Ah, sekali lagi barangkali kita terlalu pandai, hingga-hingga mencari benar pada otak kita. Begitulah, kita bahkan sering lupa siapa pencipta otak kita.

Adakah kita menunggu tua, untuk sekedar mengucap syukur atas setiap pemberianNya? Kawan, bukankah merasai detik demi detik berlalu adalah nikmat. Atau kita kah yang menunggu kaya untuk bersyukur? Bisa jadi. Tanyakan saja pada mbah becak tadi.

Adakah kita, menunggu tua untuk sekedar menawarkan bantuan pada orang semacam nenek itu tadi? Ah, sayangnya jika kita tua bisa jadi nenek-nenek itu telah tiada.

Adakah kita menunggu tua, kawan?
Jika iya, maka, akankah kita tua?

“Tiap-tiap umat akan menemui ajal, dan ketika ajal itu datang maka ia tak dapat diakhirkan sesaatpun dan tidak dapat pula didulukan.” QS Al A’raf : 34

๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s