Media (anti) sosial

kawan, rasanya kita semakin meiliki banyak teman yang mungkin sebagian besarnya kita tahu, pernah bertemu dan mengenalnya, tapi sebagian besar sisanya kita tak pernah mengenalnya, bertemu hanya di dunia yang tak nyata. Banyak orang mendapat keuntungan dengan merebaknya media sosial atau jejaring sosial, baik itu keuntungan dengan berdagang on line karena tentu di situlah media promosi terbaik dimana kita tak perlu menunjukkan barang secara langsung tapi dapat menarik pembeli hanya dengan menunjukkan fotonya saja.

Tak itu saja, di antara keuntungan lainnya adalah kita bisa saling bertukar informasi dengan akun per akun, dengan komunitas tertentu yang memiliki group, atau bahkan curhat satu dengan seluruh teman dalam akun media sosial kita. Menurut kita, hal itu sah-sah saja rasanya.

Bisa jadi begitu, sih. Tapi tahukah kita, kawan? Secara perlahan, kita menjadi manusia yang mulai meninggalkan budaya sosial kita. Budaya untuk saling membutuhkan sesama manusia. Kita menjadi lebih suka bercerita tentang apa-apa termasuk isi hati yang seharusnya menjadi bagian untuk orangtua dan sahabat terbaik kita pada semua orang bahkan yang tak mengenal kita. Kita menjadi acuh pada orang yang nyata-nyata seedang berada di depan kita, di samping kita, dan bisa jadi itu adalah sahabat terbaik lagi nyata kita, atau lebih parah lagi orang tua kita.

Entahlah, sejak kapan media sosial menjadi sesuatu yang mengalihkan perhatian kita dari dunia nyata.

Kawan, jika ada yang menyebutkan bahwa “jika kau ingin bahagia, maka matikan lah televisimu”, maka bolehlah di tambah , “Jika kau ingin lebih bahagia, bijaklah dengan media sosialmu.”

Kawan, bukanlah hal yang baik ketika teman sedang berada di samping kita lantas kita lebih asyik dengan media sosial kita. Jika boleh mendramatisir, bisa jadi itulah waktu terakhir teman kita berada di tempat kita atau sebaliknya; itulah waktu terakhir kita berkumpul dengan mereka. Bisa jadi teman kita itu hendak bercerita, berbagi kebahagiaannya, meminta pendapat atas masalah yang sedang dihadapinya.

Kawan, ada yang seharusnya kita bagi. Pun ada bagian yang seharusnya hanya ada di hati. Ada yang perlu kita perhati bukan dengan facebook, twitter atau semacamnya, tapi dengan hati.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s