Sendiri, dulu dan kini

Kawan,
Dulu sendiri adalah hal yang terlampau biasa. Justru menyenangkan ketika kau berhasil meramaikan kesendirian dengan capaian-capaian nan lama kau usahakan.

Dulu, sendiri itu kesempatan. Kesempatan dimana waktumu begitu banyak untuk membiarkan tubuh tak menyentuh barang sebelum air. Ah, itu bukan kebaikan, kawan.

Dulu, sendiri itu kebebasan. Bebas menentukan arah kemana kaki kau langkahkan. Bahkan, di tempat tertinggi sekalipun, itu adalah kewajaran.

Kini,
Sendiri itu adalah kesepian. Ya, karena kau mulai terbiasa dengan kebersamaan. Kebersamaan yang mulai kau semai dalam kalimat yang melangit.

Sendiri itu adalah kerapuhan. Ya, karena kau tak berdiri dengan kakimu saja. Ada sepasang lain yang mengiringimu. Tak di depan, tak di belakangmu, di sampingmu.

Sendiri itu, kini, adalah kesedihan. Ya, dengannya kau mengurangi kesempatan dalam kebersamaan.

Tapi,
Tahukah engkau, kawan?
Dulu dan kini, kesendirian itu adalah sebaik-baik waktu, sebaik-baik tempat untuk kembali melangitkan harap dan pinta; agar senantiasa kebaikan meliputi kesendirian dan kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s