Ah, kawan, kau hebat!

Kawan,
Aku baru saja bertemu dengan orang hebat. Dia bisa jadi orang berhati mulia, tuturnya polos tapi sungguh ketulusan menyertai setiap ucapnya. Kejujuran mengiringi kata-katanya. Setiap bercengkerama dengannya, entahlah, aku merasa butuh banyak belajar darinya. Kawan, ia jauh lebih baik dari mereka yang entah atas tujuan apa berebut meja. Ah, bukankah mereka pilihan kita?

Baiklah, kembali ke kawan lamaku yang baik itu. Kini ia bekerja di salah satu BUMN pengelola energi yang mampu menerangi gelap rumah kita. Di usia kerja yang baru 5 tahun, ia dengan ijazah D1nya dipercaya untuk mengikuti proper test calon supervisor yang membawahi beberapa anggota. Ia enggan awalnya, namun setelah bercerita pada orangtuanya, mereka meminta untuk mengikuti ujian tersebut. Ia pun melewatinya dengan jawaban-jawaban yang layak  baginya untuk lulus.

Sebenarnya itu bukanlah hal yang  istimewa, toh ternyata banyak seperti dirinya; memimpin di usia yang masih muda. Bukan jabatan yang diraihnya lantas ia hebat. Bukan. Ini tentang alasan kenapa ia dipercaya.

Ia biasa berjuang semenjak sekolah menengah kejuruan. Ia mengamen untuk mencukupi biaya praktikum dan macam-macamnya di akhir sekolahnya. Meski orang tua melarang, ia tetap meminta ijin mengamen. Ia tahu kondisi keuangan orangtuanya. Digunakan lah hasil ngamen untuk biaya sekolah dan mentraktir teman-temannya. (wah, banyak ni berarti…hehe)

Ia termasuk anak yang cerdas di sekolah. Ia dan dua teman sekolahnya berhasil mengikuti rekrutmen BUMN dimana ia bekerja sekarang tepat setelah lulus sekolah. Mendapatkan beasiswa D1, ia dididik selama 6 bulan di asrama dengan disiplin tinggi. 6 bulan berikutnya ia on the job training di salah satu unit di Gresik, kota kelahirannya. Sayang, ia harus menerima kenyataan bahwa ia ditempatkan di kota paling barat pulau Jawa, Cilegon.

Kawan, menurut cerita teman-teman terdekat ku, di institusi-institusi tempat mereka bekerja banyak sekali ditemukan praktek korupsi. Meskipun mengatasnamakan kebijakan, sesungguhnya hati tak bisa berbohong. Pun demikian di tempat kerja kawanku ini. Rupanya hal-hal ini telah membudaya di sebagian orang-orang kita sendiri. Semoga Allah menjaga kita.

Satu hari ia mendapat tugas untuk mengawasi pekerjaan yang dilaksanakan oleh sebuah kontraktor. Ia menemui kekurangan pada pekerjaan kontraktor tersebut. Ia dengan tegas meminta agar kekurangan tersebut segera dilengkapi dan dibenahi mengingat itu adalah proyek jangka panjang. Rupanya pelaksana pekerjaan merasa keberatan atas permintaan itu. Menurut kawanku itu, pelaksananya seperti kurang kompeten. Kawanku tegas tetap memaksa permintaannya dipenuhi.

Ketika sedang ada banyak orang, oknum pelaksana itu mendekati kawanku. Ia menyodorkan segepok uang agar kawanku mau “meloloskan” kekurangan tersebut. Aih, kawanku bingung. Ia menolaknya tegas namun pelaksana itu memaksanya. Karena dilihat banyak orang, ia lalu menerimanya dan menaruhnya di saku. Semua kembali bekerja.

Beberapa waktu kemudian, ketika penyodor uang itu sendiri, kawanku menghampiri. Ia kembalikan segepok uang itu dan mengatakan bahwa tugasnya adalah mengawasi hingga pekerjaan selesai. Dan urusan sodor menyodor itu selesai.

Tahukah kalian, kawan? Jika ia menerima dengan konsekuensi meloloskan kekurangan tersebut, maka itu sama dengan menanam bom waktu yang jika waktunya tiba, dia dan kita penikmat listrik akan merasakan dampak buruknya. Ah, rupanya kawan ku itu tahan terhadap godaan yang sebagian banyak orang-orang di gedung itu terjerat KPK karenanya. Siapa yang milih? Kita.

Ia dengan kompetensi, kemandirian, dan kerendahhatiannya membuat orang-orang seperti aku kagum padanya. Tapi bagi kontraktor-kontraktor nakal, ketidakberadaannya adalah satu jalan mulus untuk melancarkan strateginya.

Mungkin ia tak pernah untuk sekedar bermimpi terbang ke Spanyol menikmati kemajuan kota dan penduduknya. Hei, sungguh beruntung, ia termasuk di antara beberapa orang yang dikirim ke sana oleh perusahaan untuk belajar di salah satu pabrikan elektrikal ternama ; GE.

Kawan, adalah hebat ketika kau mampu jujur dan mengikiti nurani bahwa yang salah tetaplah salah dan benar tetaplah benar.
Hebat itu ketika kita mandiri tapi tak lantas lupa untuk memohon doa dan restu orang tua atas setiap langkah kita.
Hebat itu ketika kita mau berpikir jauh ke depan bahkan saat kesempatan curang semakin luang.
Hebat itu ketika kita tetap bersyukur atas setiap keadaan kita.

Ah, kawan, kau hebat!

2 thoughts on “Ah, kawan, kau hebat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s