Politik (menjadi) ‘Guru’

Saya tidak sedang membahas politik macam politik yang sedang diterapkan penguasa negara air sekarang. Meski bisa jadi terkait, tapi aku tak sedang membahasnya. Ketika penguasa mulai santai saja ‘nyelemur’ padahal nyata-nyata tak mensejahterakan. Semoga Allah karuniakan petunjuk pada para pemimpin kita.

Inilah politik yang menurut saya potensi terjadinya sangat besar. Bisa jadi sudah terjadi, dengan bukti banyaknya kasus korupsi.

Sederhana saja, ketika instansi belum lagi memberikan kesempatan mereka yang berkompeten dan berkomitmen untuk menjadi bagian di dalamnya, sudah tentu diisi mereka yang entah dari pintu mana mereka bisa masuk dan duduk sebagai pegawai negeri air katanya.

Aku dulu sekali bercita-cita ingin menjadi guru. Ya, guru. Namun di satu bagian perjalanan hidupku, Tuhanku yang Satu, mengantarkan pada sebuah tempat dimana aku diamanahi pekerjaan di sana. Orangtuaku adalah golongan tak mampu. Aku tak kuasa menolak permintaan untuk sekolah di kejuruan, meski hati ingin di SMA untuk kemudian melanjutkan belajar di bangku kuliah. Sungguh, bukan apa-apa, tapi karena di negeri ini, biaya sekolah macam itu tak mampu dipenuhi orangtuaku. Itu dulu, sekarang, alhamdulillah dana BOS sangat membantu. Semoga tak tersunat oleh manusia yang berbulu.

Rupanya tak mudah menjadi seorang guru yang terakui oleh penguasa negeri air nan kaya ini. Selain harus kuliah yang tentu saja membutuhkan biaya, masih harus ada biaya lagi. Konon, setelah kuliah harus menjadi ‘abdi negara’ dahulu. Sebut saja guru honorer, guru tidak tetap, atau semacamnya. Tentu lengkap dengan ketidakpastian akan kesejahteraan masa depannya. Sungguh, hanya yang benar-benar guru yang mampu bertahan dalam ketidakpastian itu.

Ingin sedikit agak pasti? Tak gratis, kawan. Kalaupun gratis, bisa jadi ada kerabat dekat yang membantu. Katanya itulah yang namanya nepotisme. Itu masih agak pasti, setidaknya namanya telah terdaftar atau telah mendapatkan nomor. Nomor apa, nomor keberapa? tak tau lah aku. Nomor urut ketidakpastian, mungkin.

Ingin lebih agak pasti lagi. Ikut tes CPNA, Calon Pegawai Negeri Air. Daftar sana sini. Cari ‘channel’ sana sini. Kumpul uang sana sini. Kalau perlu hutang sana sini.

Brroo, di negara air ini, pekerjaan itu uang. Uang bagi yang mencarikan pekerjaan. Tapi hutang bagi yang mencari pekerjaan. Tak usah kaget, bro. Di sini, itu sudah jadi rahasia umum. Pasang tarif untuk bagian ini. Titip uang untuk bisa ditempatkan di sini. Umum.

Pertanyaannya adalah, bagaimana nasib murid-murid jika model guru yang mengajar mereka adalah orang-orang yang mendapat jabatan guru dengan jalan curang? Dengan jalan tak benar?
Aku hanya membayangkan jawaban, ketika seorang murid bertanya pada guru macam itu dengan kalimat, “Pak Guru, saya bercita-cita menjadi guru. Bagaimana caranya saya bisa seperti panjenengan?”

Sungguh, kita adalah bangsa yang beragama. Dalam agama kita, Islam, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jelas menyampaikan bahwa terlaknatlah orang yang menyuap dan menerima suap.

Belum berhenti di situ. Ketika merek yang terekrut menjadi guru adalah mereka yang tidak berkompeten dan berkomitmen, bagaimana nasib murid-muridnya? Ternyata seorang guru matematika yang tak mengerti turunan mengajarkan materi integral. Terus pripun? Memang ada guru yang tak menguasai materi yang diajarkan? Ada. Bisa jadi mereka adalah orang macam sogok.

Ketika suatu masalah tidak diserahkan pada ahlinya, ketika mengajar tidak diserahkan pada yang menguasai materi dan mampu menyampaikan, maka tunggulah kehancurannya.

Sungguh, banyak sekali orang-orang berilmu yang jauh lebih pantas menjadi guru harus tersingkir oleh mereka yang mungkin akalnya sedang terjungkir. Sungguh, masih banyak lagi mereka yang benar-benar menjadi guru yang menyampaikan bulir ilmu tanpa jemu. Merekalah sejatinya guru, meski penguasa tak aku, sejatinya mereka tenteram dengan manfaatnya ilmu oleh muridnya, oleh generasi setelahnya.

Hei, kalian yang sedang membalas dendam atas uangmu yang hilang, sadarlah. Sungguh keberkahan itu sejatinya dimulai benar dari permulaan, diteruskan di perjalanan, dan akan dinikmati di akhir kehidupan. Jika kau kemudian merampas apa yang bukan hakmu dengan korupsi atau jenis mencuri lainnya, maka tunggulah. Jika tak kau akui, jika tak kau sesali, jika tak kau ganti, maka doa yang terzolimi tak berhijab. Bersiaplah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s